• ew
  • Peran Komunikasi Politik Di Indonesia
  • peran serta masyarakat dalam membangun bangsa yang jujur dan bersih
  • KEMISKINAN ; KEBIJAKAN DAN PROGRAM PENANGGULANGANNYA DI KABUPATEN SUKABUMI H. Asep Hikmat
  • PROSPEKTIF DAN FENOMENA FILSAFAT DALAM DUNIA PENDIDIKAN U. Abdullah Mu’min
  • REFLEKSI KEJAYAAN PEMERINTAHAN ISLAM DI SPANYOL Maman Hidayat
  • ANALISIS KEBIJAKAN PEMANFATAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENDIDIKAN. H. Herri Azhari
  • Peluang dan Tantangan Penerapan Demokrasi Pascatransisi Hubungan Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah dalam Konteks Penanggulangan Kemiskinan Muhamad Saendinobrata
  • POSISI KURIKULUM DALAM PENDIDIKAN H. Herri Azhari
  • “PERMINTAAN” DALAM ILMU EKONOMI Hj Lidiawati, SE. M.Pd
  • SISTEM INFORMASI MANAJEMEN DALAM INSTITUSI PENDIDIKAN PERGURUAN TINGGI Ir. H. Kusman Nur, MM.
  • FILSAFAT DEKONSTRUKSI DAN REKONSTRUKSI U. Abdullah Mu’min
  • “MEMBACA”, PERJALANAN KEPEMIMPINAN KHULAFAURRASYIDIN (Khalifah Utsman dan Ali RA.) Maman Hidayat
  • KEBIJAKAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (H. Asep Hikmat)
  • ”KORUPSI ” SUATU FENOMENA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH (Muhammad Saendinobrata)
  • ”KORUPSI ” SUATU FENOMENA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH
  • APLIKASI MANAJEMEN MUTU TERPADU DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PELAYANAN PUBLIK DI PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN SUKABUMI
  • IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL DAN PERUBAHAN POLA KONSUMSI ENERGI RUMAH TANGGA (Studi Kasus Kabupaten Sukabumi)
  • ANALISIS STRUKTUR JEJARING KEBIJAKAN PUBLIK PEMBANGUNAN DESA Implikasi Implementasi Undang-Undang tentang Pembangunan Desa
  • RUU Perguruan Tinggi Batal Disahkan
  • Akan Terbang Kemanakah Negeri Ini?
  • Peran Administrasi Publik
  • Sistem Pemerintahan Indonesia
  • Sejarah PEMERINTAHAN INDONESIA
  • Cara membuat Undang-Undang
  • Pegawai NEGERI SIPIL SEBAGAI ABDI NEGARA DAN ABDI MASYARAKAT
  • Artikel lainnya...


    PROSPEKTIF DAN FENOMENA FILSAFAT DALAM DUNIA PENDIDIKAN U. Abdullah Mu’min
    (27 November 2013)
    Kata Kunci:
    Prospektif - Filsafat - Pendidikan
    Abstrak ;
    Membaca prospeksi dunia pendidikan dewasa ini tidak akan lepas dari eksistensi filsafat. Bagaimanapun juga buah karya berbagai perubahan dalam dunia pendidikan selalu diwarnai pemikiran-pemikiran filosofis. Terbukti, dunia pendidikan selalu membutuhkan falsafah-falsafah hidup untuk meyakinkan interpretasi dan implementasi pendidikan yang sejalan dengan kebutuhan manusia, sekalipun hal itu sebatas dasar pemikiran atau barangkali sebatas kerangka metodologis.


    A. PENDAHULUAN
    Teori Pengetahuan (knowledge atau ilmu) adalah bagian yang esensial- aksiden manusia, karena pengetahuan adalah buah dari "berpikir". Berpikir adalah sebagai differentia yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya, yaitu hewan. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan "barangkali" keunggulannya dari spesies-spesies lainnya karena faktor pengetahuannya. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya.
    Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia ? Bagaimana manusia berpengetahuan ? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran ? Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit, dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu, maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view), sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. Dan itulah realita dari kehidupan manusia yang memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi. Atas dasar itu, manusia perlu membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Dalam hal ini, ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak, yaitu menerima, merekam, dan mengolah apa yang ada dalam benak, tetapi ia menjadi objek.
    Berangkat dari fenomena ini, lahirlah ilmu Filsafat yang diyakini menjadi titik tolak fondasi berbagai disiplin ilmu pengetahuan, termasuk ilmu pendidikan. Dengan ilmu filsafat, logikanya menjadi terbalik; dari yang sulit menjadi mudah dan dari yang rumit menjadi sederhana karena selalu mengedepankan pisau analisis filosofis yang bermuara pada pola pikir yang logic (pemikiran yang didasarkan pada logika), radic (mencari hakikat sesuatu sampai akar-akarnya), dan liberal (bersifat obyektif agar dapat diterima orang).
    Begitu besarnya kebutuhan akan ilmu filsafat, meneguhkan implikasi keberadaannya bagi disiplin ilmu lainnya. Bahkan ilmu filsafat dijadikan sumber segala ilmu karena diyakini mampu mengakomodasi kemunculan disiplin ilmu lainnya setidaknya dalam penggunaan metotologi. Tak terkecuali dalam ilmu pendidikan. Tulisan ini mencoba menelaah implikasi keduanya dalam bingkai pengembangan prospeksi keberadaannya ke depan.


    B. FILSAFAT; SUATU PENGANTAR
    Secara etimologis, kata filsafat berasal dari bahasa Yunani Philosphia yang berasal dari kata: Philey, Philia = ilmu; dan Sophia = rajin, arif, kebenaran pertama, pengetahuan yang luas dan dalam, kebajikan intelektual, pertimbangan atau argmumen yang sehat, kecerdikan dalam memutuskan hal-hal yang praktis. Karena itu filsafat adalah kata umum yang menunjukan suatu usaha mencari keutamaan karena merupakan kumpulan kata orang-orang pecinta pengetahuan.
    Kata Philosophie sendiri mulai digunakan pada tahun 485 SM mempunyai arti mencari kebenaran, sedang Sophia digunakan abad 9 SM yang berarti kebijaksanaan atau kecakapan. Menurut Sokrates, filsafat berarti bijaksana tetapi filosuf bukanlah orang yang bijaksana, karena kebijaksanaan merupakan predikat luhur yang hanya dikulturkan pada Tuhan. Filosuf pada hakikatnya adalah pencinta kebijaksanaan (ahli filsafat). (Ali Mudhofir, 2001:483)
    Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni, filsafat teoritis dan filsafat praktis. Filsafat teoritis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam, seperti: fisika, biologi, ilmu pertambangan dan astronomi; (2) ilmu eksakta dan matematika; (3) ilmu tentang ketuhanan dan methafisika. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak); (2) urusan rumah tangga; (3) sosial dan politik. Karenanya, filosof adalah orang yang mengetahui semua cabang-cabang ilmu pengetahuan tadi.

    Konon yang pertama kali menggunakan kata "philoshop" adalah Socrates. (dan masih konon juga) Dia menggunakan kata ini karena dua alasan, Pertama, kerendah-hatian dia. Meskipun ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya, dia tidak mau menyebut dirinya sebagai orang yang pandai. Tetapi dia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan. Kedua, pada waktu itu, di Yunani terdapat beberapa orang yang menganggap diri mereka orang yang pandai (shopis). Mereka pandai bersilat lidah, sehingga apa yang mereka anggap benar adalah benar. Jadi kebenaran tergantung apa yang mereka katakan. Kebenaran yang riil tidak ada. Akhirnya manusia waktu itu terjangkit skeptis, artinya mereka ragu-ragu terhadap segala sesuatu, karena apa yang mereka anggap benar belum tentu benar dan kebenaran tergantung orang- orang shopis.
    Dalam keadaan seperti ini, Socrates merasa perlu membangun kepercayaan kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. Dia berhasil dalam upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis. Meski dia berhasil, ia tidak ingin dikatakan pandai, tetapi ia memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka yang sok pandai. Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Plato, yang dikembangkan lebih jauh oleh Aristoteles. Aristoteles menyusun kaidah-kaidah berpikir dan berdalil yang kemudian dikenal dengan logika Aristotelian.
    Dalam implementasinya, ketika manusia ingin mengetahui sesuatu, tidak lepas selalu menggunakan dua alat yakni indra dan akal. Indra yang merupakan alat pengetahuan yang paling dasar mempunyai banyak kesalahan, baik indra penglihat, pendengar, peraba, pencium dan perasa. Mereka mengatakan satu indra saja mempunyai kesalahan ratusan. Jika demikian adanya, maka bagaimana pengetahuan lewat indra dapat dipercaya ? Demikian pula halnya dengan akal. Manusia seringkali salah dalam berpikir. Bukti yang paling jelas bahwa di antara para filosof sendiri terdapat perbedaan yang jelas tidak mungkin semua benar pasti ada yang salah. Maka akalpun tidak dapat dipercaya. Oleh karena alat pengetahuan hanya dua saja dan keduanya mungkin bersalah, maka pengetahuan tidak dapat dipercaya.
    Menurut Ahmad Tafsir (1999:6) dikatakan bahwa akal adalah alat pencari dan pengukur pengetahuan. Pengetahuan dicari dengan akal, temuan itu diukur dengan akal pula untuk menentukan benar salahnya. Karena itulah fungsi akal adalah untuk mengukur kebenaran. Sedangkan fungsi hati adalah untuk mengarahkan kebenaran itu agar tetap tidak ”keluar dari jalur” hati nurani yang bersumberkan pada kebenaran universal atau bahkan sejalan dengan spirit keagamaan. Dengan hati, kebenaran akan tetap terkontrol sehingga tidak bertentangan dengan kebenaran universal. Dengan hati, kebenaran itu diukur dan diarahkan sejalan dengan kebenaran yang digagaskan oleh hati.
    Karena itu, berfilsafat ialah berusaha menemukan kebenaran tentang segala sesuatu dengan menggunakan pemikiran secara serius. Belajar berfilsafat merupakan salah satu bentuk latihan untuk memperoleh kemampuan berfikir serius. Kemampuan ini akan memberikan kemampuan memecahkan masalah serius, menemukan akar persoalan yang terdalam, menemukan sebab terakhir suatu penampakan. (Ahmad Tafsir: 1999:19) Filsafat membawa kita kepada pemahaman, dan pemahaman membawa kita kepada tindakan yang layak (Louis O. Kattsoff, 1996:3)

    B. IMPLIKASI FILSAFAT DALAM ILMU PENDIDIKAN
    Belum pernah kita mendengar ada satu masa pendidikan tidak dibicarakan. Pendidikan selalu menarik perhatian, selalu dibicarakan, selalu diperdebatkan. Sebabnya ialah karena orang merasa pendidikan tidak pernah memuaskan, orang selalu menghendaki pendidikan yang lebih baik. Orang-orang yang bekerja pada lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) yang biasa bertugas menyiapkan guru adalah orang yang paling tidak puas terhadap keadaan pendidikan. Permasalahan yang paling sering dikeluhkan ialah mengapa lembaga pendidikan kita tidak mampu menghasilkan lulusan yang siap pakai. Lulusan yang tidak siap pakai memang paling banyak dikeluhkan. Sebenarnya permasalahan ini belum menyentuh permasalahan terbesar dalam pendidikan kita. Sekalipun demikian pakar pendidikan dan penanggung jawab pendidikan tentu saja harus mengupayakan agar lulusan sekolah siap pakai.
    Selain itu, masih ada, bahkan masih banyak permasalahan besar pendidikan kita. Para pakar dan penanggung jawab pendidikan sesungguhnya tidaklah diam atau bersikap masa bodoh. Sudah banyak upaya dilakukan untuk memperbaiki pendidikan kita. Seminar-seminar dan kajian-kajian telah banyak dilakukan, gagasan dan pemikiran-pemikiran baru telah banyak digukirkan, kurikulum telah berkali-kali mengalami perubahan, para pengelola atau praktisi pendidikan dan guru-guru telah banyak yang mengikitu berbagai penataran dan pelatihan, bahkan buku-buku paket serta buku panduan dengan mudah didapatkan. Tetapi keluhan tetap saja ada. Ada apa? Untuk menjawab pertanyaan itu agaknya diperlukan pemikiran mendasar. Pemikiran mendasar tentang pendidikan biasanya dilakukan oleh Filsafat Pendidikan.
    Makanya antara filsafat dengan pendidikan, memiliki hubungan yang sangat kuat dalam memformulasi eksistensi keilmuan. Hal ini dapat dilihat dari diagram berikut;























    Karena itulah maka filsafat sering dikatakan sebagai pengetahuan yang berada di atas awan, tidak turun ke dunia (maksudnya ke dunia empiris). Bila ia turun ke dunia empiris maka pengetahuan itu berubah menjadi pengetahuan sains. Karena itu ada juga orang menyangka filsafat tidak ada gunanya karena filsafat dianggap tidak mampu menyelesaikan masalah kehidupan. Yang dimaksud mereka tentulah kehidupan yang empiris. Filsafat pendidikan, karena itu, adalah pengetahuan logis (dan hanya logis) tentang pendidikan. Tentu saja filsafat pendidikan hanya membicarakan masalah-masalah abstrak tentang pendidikan. Bila filsafat telah membicarakan -misalnya- tentang ukuran ruang kelas, cara membuat rangking murid, maka filsafat pendidikan itu telah turun menjadi sains pendidikan. Filsafat pendidikan hanya membicarakan bagian-bagian pendidikan yang masih "gelap" yaitu yang tidak dapat dibicarakan secara empiris. Apakah memang ada persoalan pendidikan yang hanya dapat dibicarakan secara filsafat? Ada, dan banyak. Misalnya tentang dasar pendidikan, tujuan pendidikan, siapa guru itu sebenarnya, apa sifat guru yang paling penting, apakah betul manusia dapat dididik dan mengapa ia dapat dididik, dan sebagainya.
    Kegunaan Filsafat Pendidikan dalam proses pendidikan, maupun dalam perkembangan sains pendidikan, biasanya terjadi arus bolak-balik antara filsafat pendidikan dan sains (ilmu) pendidikan. Ada kalanya filsafat pendidikan memperoleh inspirasi dari sains pendidikan, seringkali juga sains pendidikan mendapat pemecahan dari temuan (renungan) filsafat pendidikan. Namun dalam operasionalnya filsafat pendidikan berguna untuk mencari penyebab masalah-masalah pendidikan, berguna untuk berfikir menyelesaikan masalah pendidikan secara komprehensif, serta berguna untuk menyusun atau merumuskan filosofi pendidikan yang relevan dengan dinamika zaman.
    Pada zaman sekarang ini kelihatannya fungsi filsafat pendidikan itu menjadi telah sempit, dalam arti ia hanya membicarakan masalah-masalah pendidikan yang tidak dapat lagi diselesaikan (dipecahkan) oleh sains pendidikan, seperti misalnya dalam persoalan mutu pendidikan. Kita merasakan mutu pendidikan kurang memadai. Lulusan tidak siap pakai. Lantas kita buat pendidikan begini, hasilnya lulusan tidak siap pakai; dibuat begitu, tetap saja tidak mampu langsung bekerja; dibuat begini-begitu, toh hasilnya begitu-begitu juga. Akhirnya para pakar pendidikan mundur sambil mengatakan bahwa lembaga pendidikan hanya mampu menghasilkan lulusan siap latih. Tetapi, jawaban ini ternyata tidak menyelesaikan masalah mutu itu. Nah, bila persoalannya demikian, tatkala sains pendidikan telah berbuat serba salah, berarti persoalan itu telah menjadi persoalan yang semakin ruwet. Tidak ada jalan lain, mestinya persoalan itu segera dikembalikan ke induk sains pendidikan yaitu filsafat pendidikan. Di sini filsafat pendidikan berfungsi menyelesaikan persoalan-persoalan pendidikan yang tidak dapat lagi diselesaikan oleh sains (ilmu) pendidikan.
    Berangkat dari persoalan ini, muncul pertanyaan apa betul filsafat pendidikan itu mampu menyelesaikan seluruh masalah pendidikan yang tidak dapat diselesaikan oleh sains pendidikan? Bagaimana misalnya jika teori filsafat pendidikan itu juga sedang ruwet, tidak tahan uji misalnya? Bila kusut dalam sains (ilmu) pendidikan, kita selesaikan dalam filsafat pendidikan, bila filsafat pendidikan kusut, ke mana kita meminta penyelesaian? Ini pertanyaan amat mendasar.
    Dalam menghadapi dan menjawab kekusutan filsafat pendidikan, kita sebenarnya hanya memiliki dua kemungkinan penyelesaian. Pertama, kita coba selesaikan kekusutan filsafat pendidikan itu dengan berpikir. Ini artinya hal itu kita selesaikan dengan filsafat. Jadi, filsafat diselesaikan dengan filsafat. Bila hal itu masih belum berhasil, biarkan saja filsafat pendidikan itu kusut. Artinya, sains pendidikan kita dibina berdasarkan filsafat pendidikan yang kusut tersebut. Jalan kedua ialah kita selesaikan kekusutan filsafat pendidikan itu dengan menggunakan sistem nilai di atasnya yaitu ajaran agama. Apakah ini mungkin? Jawabnya: bukan saja mungkin, tetapi harus dan satu-satunya yang pantas dijadikan solusi. Makanya, jika filsafat pendidikan adalah "ibu" sains pendidikan, maka agama adalah "ibu" filsafat pendidikan.
    Ada pertanyaan mendasar yang kadang-kadang pendidik lupa menyadarinya: siapa sebenarnya yang kita didik? Pendidik, misalnya guru, kadang-kadang terpaku pada tugas kurikulernya, misalnya terjebak pada persoalan silabus yang harus diselesaikan tepat pada waktunya. Karena itu ia lupa menyadari siapa sebenarnya yang dididiknya itu, dari mana asalnya, mengapa ia lahir, dan ke mana arah tujuannya. Bila pendidik melupakan hal-hal mendasar itu, itu berarti ia telah terjebak pada hal-hal yang kecil dan telah melupakan hal besar dan prinsipil dalam pendidikan. Bila memang demikian maka janganlah kaget bila siswa kita pintar menyelesaikan soal matematika, serba tahu tentang fisika, tetapi ia juga ahli membohongi orang tuanya dan gurunya. Nanti, tatkala siswa itu mulai "jadi orang" jangan kaget bila ia menyogok dan disogok, menyikut dan disikut, menipu dan tertipu. Kita telah melakukan kekeliruan besar karena kita telah mati-matian mendidik otak dan tangan manusia tetapi kita belum mendidik manusia. Hal ini tentu tak lepas dari kegagalan dunia pendidikan kita yang mampu sebatas melakukan pengajaran tidak pada arah pendidikan, karena bila tujuan pendidikan tercapai maka pembentukan kepribadian menjadi tujuan yang sesungguhnya tercapai. Bagaimanapun juga hakikat dasar dari prinsip pendidikan ialah agar ia menjadi lebih manusiawi.
    Menyadari tentang siapa diri, sebenarnya dapat dijadikan langkah pertama dalam membenahi kekusutan dalam filsafat pendidikan. Apa yang kita ketahui tentang "kegagalan" pendidikan kita, seperti beberapa contoh diberikan di atas, sebenarnya bersumber pada kealpaan kita tentang siapa kita ini. Memangnya siapa sih kita ini? Orang-orang humanist menyatakan bahwa manusia mampu mengatur dirinya dan alam. Dari pernyataan yang sombong ini mungkin saja kita telah terjebak yang akhirnya mengembangkan teori filsafat pendidikan yang mengajarkan bahwa tujuan pendidikan haruslah kemampuan menguasai alam. Tujuan tertinggi itu harus dicapai oleh pendidikan. Bila orang telah mampu menguasai dirinya, maka barulah ia mungkin mampu menguasai (mengatur) orang lain dan alam. Adalah amat keliru bila manusia dan alam diatur oleh orang-orang yang tidak mampu menguasai dirinya. Kekurangmampuan menguasai diri bukan mustahil telah melahirkan manusia yang sombong, berkecenderungan hidup mewah dan melupakan orang yang bernasib malang; bisa jadi juga telah menghasilkan manusia berhasrat menjajah negara lain atau orang lain.
    Sekarang, bagaimana filsafat pendidikan kita? Cobalah lihat silabus kuliah filsafat pendidikan di perguruan tinggi kita. Apa yang ditemukan? Filsafat pendidikan yang diajarkan di perguruan tinggi kita adalah filsafat pendidikan Barat. Filsafat pendidikan Barat itu dikembangkan berdasarkan paham Humanisme dan Rasionalisme serta turunan-turunannya. Dari filsafat pendidikan seperti itu diturunkan ilmu pendidikan Barat dan ilmu pendidikan Barat itulah sebenarnya yang kita ajarkan kepada mahasiswa kita. Dari ilmu pendidikan Barat itu kita merancang kegiatan-kegiatan pendidikan termasuk sekolah-sekolah. Maka sekolah kita sama saja dengan sekolah Barat. Dari sekolah semacam itulah muncul lulusan sekolah kita, ya, sama saja dengan lulusan sekolah Barat, bedanya ialah lulusan kita mengetahui sedikit Pancasila dan Agama.
    Kelemahan justru pada para pakar pendidikan; pakar pendidikan kita belum berhasil juga merumuskan dan mengajarkan filsafat pendidikan yang Pancasilais. Mungkin ajaran Islam dapat membantu membuat rumusan itu. Tujuan pendidikan dalam undang-undang itu telah memberikan arah bahwa pendidikan kita harus menghasilkan lulusan yang menyadari dirinya. Nah, Islam sanggup merinci hal itu; Islam dapat menjelaskan dari mana, di mana, dan hendak ke mana manusia. Menurut Islam, manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan. Jadi, manusia itu berasal atau datang dari Tuhan. Pernyataan ini tidak main-main karena pernyataan ini mengandung resiko yang sangat besar. Menurut Islam, manusia berkembang dipengaruhi oleh lingkungannya dan pembawaannya, salah satu pembawaannya ialah ia ingin beragama. Itulah antara lain hakikat wujud manusia menurut Islam. Selanjutnya dikatakan bahwa manusia dibangun oleh tiga aspek sama penting yaitu jasmani, akal, dan ruhani. Al-Qur`an menjelaskan bahwa manusia itu mempunyi aspek jasmani dan itu sungguh-sungguh. Ini dijelaskan antara lain di dalam al-Qur'an surat al-Qashash:77. Di dalam surat al-A'raf:31, dimana Allah menjelaskan bahwa makan dan minum adalah suatu keharusan, suatu indikasi yang jelas bahwa manusia memiliki aspek jasmani.

    C. MEMBACA PROSPEKSI FILSAFAT DALAM DUNIA PENDIDIKAN
    Dinamika kehidupan selalu mengalami perubahan. Setiap perubahan selalu menuntut adanya perkembangan dalam berbagai sektor kehidupan termasuk di dalamnya pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan selalu dituntut bersikap kreatif dan adaptatif dalam menghadapi kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks. Dalam praktisnya, pendidikan harus mampu menjawab tuntutan zaman yang terus berkembang dengan mengacu pada kebutuhan masyarakat.
    Hidup dan pendidikan merupakan suatu yang tidak bisa dipisahkan; hidup berarti belajar, dan belajar berarti hidup. Setiap tahun dan generasi akan terjadi permasalahan-permasalahan yang baru dan terkadang permasalahan yang terdahulu-pun masih belum terpecahkan. Untuk menghadapi itu semua kebijakan seseorang akan sangat dibutuhkan, di sini peran pendidikan yang telah mempola dan memberikan corak terhadap kehidupan seseorang dengan latar belakang yang beragam sangat diperlukan terutama dalam membentuk kemampuan potensial manusia yang lebih optimal.
    Keberadaan pendidikan sejak semula memang diperlukan untuk manusia. Karen itu, pendidikan senantiasa meletakan dasar filosofis tentang manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki potensi dasar (fitrah) karena pada hakikatnya menurut Yusuf Amir Feisal pendidikan adalah menyiapkan generasi terdidik untuk masa yang akan datang, artinya telah terprediksi hal-hal apa saja yang harus dipersiapkan atau dihindari. Kalkulasi berbagai macam kejadian di masa mendatang, merupakan studi khusus dan hasilnya mesti dihubungkan dengan kenyataan sekarang sehingga program pendidikan dapat menampung proses pembentukan manusia yang sudah dipersiapkan untuk kemungkinan-kemungkinan tersebut. (1995:68)
    Hal ini berangkat dari pengertian manusia untuk masa depan tidak lagi sebatas sebagai subyek yang seratus persen menentukan arah kehidupannya. Akan tetapi manusia dan masa depan semakin banyak bergantung pada satu kondisi yang mereka ciptakan sendiri. Dimana manusia dan masa depan adalah dua subyek yang kadang saling mempunyai ketergantungan (interdependensi), saling mengisi (suplementasi), atau bahkan saling berjalan sendiri-sendiri (independensi). (Chalijah Hasan, 1995:11)
    Masa depan manusia akan hadir dari dua arah. Pertama, masa depan adalah hasil proses sejarah yang mengikuti jarum peristiwa alam. Kedua, hasil rekayasa budaya manusia hari ini. Dua kondisi masa depan inilah tidak dapat dipungkiri kehadirannya dalam lingkungan pendidikan. Karena itu, tidak ada pilihan lain untuk melengkapi pemikiran ke arah pendidikan yang memadai, masa depan harus menjadi rujukan.
    Dalam konteks masa depan, dibutuhkan pendekatan dalam pendidikan yang bersifat sintetic paradigmatic --di sinilah filsafat mempunyai peran sebagai sistem pendekatan metodologis--, yaitu di samping dibutuhkan nilai-nilai, juga dibutuhkan adanya keterbukaan secara kreatif dan inovatif dari pendidikan. Dengan demikian, pendidikan diharapkan mempunyai peran didaktis-transformatif dalam konteks sosio budaya yang senantiasa menunjukan perubahan secara kontinyu sejalan dengan adanya sofistifikasi budaya dan peradaban manusia.( Thobroni dan Syamsul Arifin, 1994:111)
    Untuk mengetahui masa depan pendidikan, seluruh kondisi yang mempengaruhi budaya manusia harus dijadikan input sebagai upaya untuk menata, merekayasa, dan mengendalikan kecenderungan manusia berikut masa depannya. Hal ini sejalan dengan kehidupan manusia dengan potensi akalnya. Akal manusia tidak bersifat static, ia tumbuh dan berkembang serba terus dan mengalami perubahan. Gerak perubahan kehidupan manusia makin meningkat, sosio budaya makin kompleks, meluas dan mendalam.
    Paradigma berfikir menjadi alas kebutuhan manusia dalam menyikapi hidupnya. Berbagai perubahan dinamis, akan selali disikapi sebagi reaksi menyelesaikan masalahnya. Apalagi manusia pada jaman purba menurut filsafat selalu berangkat dari rasa keheranan, sedangkan pada masa modern bermula dengan rasa keraguan. Rasa keraguan ini merupakan suatu penyakit kemanusiaan yang pedih dan mengganggu pikiran, (Wadjiz Anwar, 1979:9)
    Dari rasa keraguan inilah, porsi berfikir sebagai alas dari ilmu filsafat mendapat tempatnya, terlebih salah satu pengertian filsafat adalah usaha untuk memahami dunia dan hidup ini. (Wadjiz Anwar, 1979:33) Tuntutan eksistensial atas kehidupan ini menuntut pikiran manuasia melalui akalnya sebagai instrument paradigmatic keilmuan. Memang semula filsafat mencakup segala pengetahuan manusia, akan tetapi kemudian pengetahuan-pengetahuan khusus melepaskan diri dari filsafat dan berdiri sendiri dengan hasil-hasil yang meyakinkan membawa keuntungan kepada manusia. Implikasi yang begitu besar terhadapa disiplin ilmu, mengakibatkan keberadaan filsafat sangat besar mewarnai dinamika keilmuan saat ini. Termasuk dalam dunia pendidikan. Apalagi pendidikan berangkat dari pembinaan dan pengembangan akal manusia melalui instrument berpikir.
    Dalam prakteknya, prospeksi filsafat dalam dunia pendidikan tergambar pada usaha yang total untuk mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Proses pembentukannya melibatkan seluruh komponen kehidupan, dan hal yang dibentuknya merupakan keseluruhan pribadi manusia. Hasil dari proses tersebut harus mencerminkan manusia yang paripurna, yang berdimensi humanis yang melekat erat pula nilai-nilai.. Dalam visi pendidikan nasional pula tergambar harapan terwujudnya individu manusia baru yang memiliki sikap dan wawasan keimanan dan akhlak tinggi, kemerdekaan dan demokrasi, toleransi dan menjungjung hak asasi manusia, saling pengertian dan berwawasan global. (E. Mulyasa, 2001:34) Hal ini sejalan dengan tujuan berfilsafat agar memperoleh wawasan (insight) yang makin jelas tentang berbagai gejala, baik yang tampil sebagai fakta atau yang berlangsung sebagai rangkain peristiwa. (Fuad Hasan, 1996:9)
    Demikian pula halnya dalam pembuatan kurikulum dan materi pendidikan yang disampaikan kepada anak didik harus dapat memberi kesan dan mewarnai kehidupana anak didik. Secara mendasar bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang bersifat lahiriyah dan rohaniyyah; dua unsur itu akan menjadikan manusia yang berdedikasi, berakhlak mulia, dan mempunyai daya eksplorasi dalam menggali rahasia kehidupan. Keutuhan pendidikan yang mengupayakan berbagai segi manusia harus tercermin dalam rangkaian materi yang disampaikan, tiada lain rangkaian itu adalah kurikulum.
    Kurikulum adalah software pendidikan. Orientasi dari pendidikan akan terlihat dari arahan kurikulum yang tersaji. Satu kesatuan yang mengkristal pada tujuan, materi-materi pelajaran yang akan tersaji dengan komponen-komponen yang berkaitan dengan keberhasilannya. Semuanya membutuhkan pola berpikir melalui ikhtiar manusia untuk memahami berbagai kenyataan melalui upaya berpikir sistematis, kritis dan radikal. Berpikir sistematis (systema) artinya teratur dan saling keterkaitan; berpikir kritis (kritikos) artinya memiliki kemampuan untuk memilah, memilih dan menilai; dan berpikir radikal (radix) berarti berpikir mendalam sehingga terkadang terkesan melampaui batasan-batasan “tradisional”. (Fuad Hasan, 1996:9)
    Sebagai bukti filsafat mewarnai dunia pendidikan, pembuatan kurikulum dalam pembentukannya sangat memperhatikan 3 faktor:
    1. Perhatian terhadap falsafah atau pandangan hidup dan budaya masyarakat sekitar yang bersangkutan, karena antara budaya dan nilai-nilai yang ada di masyarakat tersebut akan menuntut pelestariannya sejauh sesuai dengan visi dan misi pendidikan. (Sudjana, 1995:10)
    2. Perhatian terhadap psikologi anak; anak sebagai komponen yang dididik harus diperhatikan kejiwaan, dan tingkat emosionalnya, termasuk di dalamnya bagaimana tugas-tugas perkembangannya. Hal tersebut untuk efektifitas suatu pendidikan. (Nasution, 1982:14)
    3. Perhatian terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi; suatu garis yang beriringan antara ilmu pengetahuan dan teknologi dengan pendidikan, masing-masing saling mempengaruhi. Pendidikan sebagai upaya peningkat kualitas sumber daya manusia harus dapat menjadi jembatan bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pertimbangan tersebut dikemas dalam paket kurikulum yang menjabarkan secara rinci hal-hal yang penting dalam pelaksanaan pendidikan.
    Karena itu, prospeksi filsafat dalam dunia pendidikan tidak lepas dari bagaimana menata pendidikan sebagai usaha memanusiakan manusia sebagaimana dikemukan filosif Plato mampu menata pendidikan di masa depan dengan melakukan pemahaman terhadap nilai-nilai pendidikan yang harus diartikan lebih luas ke arah pemikiran baru, yaitu yang berorientasi individualisasi, internalisasi, dan sosialisasi.
    Sebagai proses individualisasi, pendidikan sebagai usaha untuk membantu, menolong, membimbing, individu untuk mengenali dirinya, memahami apa yang yang ia miliki, sehingga ia mempunyai kepercayaan diri (self confidence) dalam melakukan setiap tindakan dan masalah yang dihadapi, sekaligus memilih masa depan yang lebih baik (the best future) sesuai dengan tuntunan ajaran agama.dalam hal ini dalam berarti dalam diri manusia ada kemampuan untuk mengaktualisasikan dirinya sendiri (self actualization).
    Proses internalisasi berarti pendidikan sebagai usaha menyampaikan nilai-nilai pada sasaran didik dan bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diresapi dalam kehidupan sehari-hari sebagai makna internalisasi dari proses pendidikan. Dari definisi ini, pendidikan merupakan suatu aktivitas yang fundamen, karena pada hakikatnya pendidikan adalah upaya untuk memanusiakan manusia (humanisasi) sebagai mana tujuan dari filsafat pendidikan yang dikemukakan Filosof Plato dan Aristoteles.
    Sedangkan sebagai proses sosialisasi, diartikan sebagai proses transformasi nilai-nilai budaya. Pendidikan harus bersifat terbuka, adaptif dan selektif mentransfer nilai-nilai sosial budaya yang berkembang di masyarakat dengan tetap mengacu pada nilai-nilai budaya dan tradisi lokal dan agama. Maka dari itu, masa depan manusia tetap mengandalkan pendidikan, apalagi pendidikan yang dilandasi nilai-nilai agama (religius religion).
    Munculnya berbagai perubahan kurikulum dan model pengajaran selalu dipengaruhi kebutuhan dan kewajiban menata masa depan manusia. Dengan kemampuan instrumen berpikir, dunia pendidikan mengalami berbagai perubahan penting yang dilandasi pandangan dan pemikiran filosofis sebagai pendekatan dalam memahami budaya serta memformulasi nilai-nilai pendidikan yang komprehensif mampu menyelesaikan berbagai problem kemanusiaan.
    Dari pandangan masa depan manusia, filsafat mempunyai warna penting dalam dunia pendidikan. Terbukti, acapkali perubahan sistem pendidikan selalu dipengaruhi unsur berpikir secara mendalam sebagai fondasi dari ilmu filsafat. Hubungan ini, misalnya dapat dilihat dalam bagan berikut;
    Filsafat

    Rasionalisme

    Filsafat Pendidikan (Pemikiran Pendidikan)


    Teori/ilmu Pendidikan (Pemikiran Empirik)


    Kurikulum


    Pikir Fisik





    Program Kecakapan Program Pengajaran Program Estrakurikuler


    Pelatihan. Komputer Mata Pelajaran OSIS
    Pelatihan Bahasa Pramuka
    Pelatihan keterampilan lainnya PMR

    Bagan ini semakin memperjelas betapa warna filsafat tidak bisa dipisahkan dalam dunia pendidikan. Produk-produk yang dihasilkan dalam pemikiran pendidikan setidaknya selalu berangkat dari falsafah hidup masyarakat di dalamnya. Maka tak heran, perubahan dan pembenahan dunia pendidikan bersinergis dengan upaya manusia memaksimalkan potensi berpikir untuk kemudian menghasilkan sumber daya manusia yang optimal.

    D. PENUTUP
    Membaca prospeksi dunia pendidikan dewasa ini tidak akan lepas dari eksistensi filsafat. Bagaimanapun juga buah karya berbagai perubahan dalam dunia pendidikan selalu diwarnai pemikiran-pemikiran filosofis. Makanya tidaklah heran kemudian, warna dunia pendidikan kita baik dari sisi kurikulum sampai penerapan di lapangan tidak lepas dari warna filsafat Barat yang pure menggunakan referensi filsafat sebagai hasil karya manusia dengan didukung “pendewaan” rasio sebagai instrumen untuk memahaminya, sehingga hasilnya pun tidak lepas dari kadar batas ukuran rasio manusia yang logis. Bahkan tak jarang produknya interpretatif, karena ukurannya sangat subyektif.
    Sebagai upaya yang bertujuan memanusiakan manusia, pendidikan selalu menjelma dengan segala perubahannya sebagai refleksi kebutuhan manusia dengan zamannya. Hal ini terbukti dunia pendidikan selalu membutuhkan falsafah-falsafah hidup untuk meyakinkan interpretasi dan implementasi pendidikan yang sejalan dengan kebutuhan manusia. Dan filsafat sangat dominan mewarnai dunia pendidikan, sekalipun sebatas dasar pemikiran atau barangkali sebatas metodologi yang dianggap efektif dan efisien.

    DAFTAR PUSTAKA
    Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999.
    Ali Mudhofir, Kamus Filsuf Barat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.
    Al-Syaibani, Falsafah Pendidikan Islam. Penerjemah Hasan Langgulung. Jakarta: Bulan Bintang, 1979.
    Chalijah Hasan, Kajian Perbandingan Pendidikan, Surabaya: al-Ikhlas, 1995
    E. Mulyasa, Pedoman Pemahaman dan Penerapan Kurikulum Muatan lokal di Sekolah Dasar, Bandung: Geger Sunten, 2001.
    Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam. Jakarta: Universitas Indonesia. 1982.
    Jostein Gaarder, Dunia Shofie, Bandung: Mizan, cet X, 2001
    Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat, Penerjemah Soejono Soemargono, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992
    Nasution, Asas-Asas Kurikulum, Bandung: Jemars, 1982
    Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, Jakarta: Bulan Bintang, 1977
    Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah, Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1995.....[kembali]
    FotoFotoFotoFotoFotoFoto

    ©2012 PUSTEKOM STISIP WIDYAPURI MANDIRI SUKABUMI