• ew
  • Peran Komunikasi Politik Di Indonesia
  • peran serta masyarakat dalam membangun bangsa yang jujur dan bersih
  • KEMISKINAN ; KEBIJAKAN DAN PROGRAM PENANGGULANGANNYA DI KABUPATEN SUKABUMI H. Asep Hikmat
  • PROSPEKTIF DAN FENOMENA FILSAFAT DALAM DUNIA PENDIDIKAN U. Abdullah Mu’min
  • REFLEKSI KEJAYAAN PEMERINTAHAN ISLAM DI SPANYOL Maman Hidayat
  • ANALISIS KEBIJAKAN PEMANFATAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENDIDIKAN. H. Herri Azhari
  • Peluang dan Tantangan Penerapan Demokrasi Pascatransisi Hubungan Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah dalam Konteks Penanggulangan Kemiskinan Muhamad Saendinobrata
  • POSISI KURIKULUM DALAM PENDIDIKAN H. Herri Azhari
  • “PERMINTAAN” DALAM ILMU EKONOMI Hj Lidiawati, SE. M.Pd
  • SISTEM INFORMASI MANAJEMEN DALAM INSTITUSI PENDIDIKAN PERGURUAN TINGGI Ir. H. Kusman Nur, MM.
  • FILSAFAT DEKONSTRUKSI DAN REKONSTRUKSI U. Abdullah Mu’min
  • “MEMBACA”, PERJALANAN KEPEMIMPINAN KHULAFAURRASYIDIN (Khalifah Utsman dan Ali RA.) Maman Hidayat
  • KEBIJAKAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (H. Asep Hikmat)
  • ”KORUPSI ” SUATU FENOMENA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH (Muhammad Saendinobrata)
  • ”KORUPSI ” SUATU FENOMENA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH
  • APLIKASI MANAJEMEN MUTU TERPADU DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PELAYANAN PUBLIK DI PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN SUKABUMI
  • IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL DAN PERUBAHAN POLA KONSUMSI ENERGI RUMAH TANGGA (Studi Kasus Kabupaten Sukabumi)
  • ANALISIS STRUKTUR JEJARING KEBIJAKAN PUBLIK PEMBANGUNAN DESA Implikasi Implementasi Undang-Undang tentang Pembangunan Desa
  • RUU Perguruan Tinggi Batal Disahkan
  • Akan Terbang Kemanakah Negeri Ini?
  • Peran Administrasi Publik
  • Sistem Pemerintahan Indonesia
  • Sejarah PEMERINTAHAN INDONESIA
  • Cara membuat Undang-Undang
  • Pegawai NEGERI SIPIL SEBAGAI ABDI NEGARA DAN ABDI MASYARAKAT
  • Artikel lainnya...


    REFLEKSI KEJAYAAN PEMERINTAHAN ISLAM DI SPANYOL Maman Hidayat
    (27 November 2013)
    A. Pendahuluan
    Banyak komentar yang diberikan oleh kaum orientalis Barat terhadap masuknya kaum muslimin dan sumbangan pemikiran serta kemajuan yang diberikan kaum muslimin di Spayol.
    Jasa umat Islam di Spayol telah membuka salah satu bab yang paling cemerlang tidak hanya dalam sejarah intelektual Islam, tetapi juga dalam sejarah intelektual seluruh dunia. Orang Islam Spanyol tidak hanya pembawa obor kebudayaan dan peradaban tetapi juga menjadi media penemuan kembali ilmu pengetahuan dan filsafat masa silam. Sampai kemajuan Eropa pun yang hingga kini terus berkembang, banyak berhutang budi pada khazanah ilmu pengetahuan Islam yang berkembang pada masa kejayaan Islam di Spanyol dulu.
    Dalam makalah yang sederhana ini penulis akan mencoba mendeskripsikan masuknya Islam ke Spanyol dan keberadaannya ketika itu, periodesasi kekuasaan Islam di Spanyol berikut perkembangannya, prestasi-prestasi, peradaban, faktor-faktor kemajuan dan penyebab kemunduran.

    B. Awal Masuknya Islam di Spayol
    Spanyol yang dikenal dengan sebutan Andalusia dalam sebutan Arab. Sudah dikenal oleh dunia Arab dan dunia Islam sejak dikuasai Yunani dan Romawi. Pada zaman ini didominasi oleh kristen yang meluas di negeri ini. Penduduk negeri ini terdiri dari orang-orang Ghoth, Romawi, Itali dan Yahudi. Secara sosial, bangsa Spanyol saat ini dalam keadaan berpecah belah. Tidak ada persatuan diantara mereka, baik yang seagama maupun yang setanah air.
    Mereka mempunyai raja-raja bangsawan dan tuan-tuan tanah besar. Semua golongan penduduk bermukim dikota-kota besar dan penting seperti Toledo, Sevila, Merida dan Cordova.
    Pada tahun 710 M terjadi perebutan kekuasaan antara Witeza dan raja Gothia dengan panglimanya yang bernama Roderik. Akhirnya Roderik dapat mengalahkan Witeza. Namun persoalaan tidak selesai sampai di sini, semua putra Witiza menaruh dendam kepada Roderik untuk merebut kembali kedudukan mereka, kemudian mereka bekerja sama dengan Grap Yulian yang juga musuh Roderik. Maka diambilah suatu keputusan untuk meminta bantuan militer dari kekuasaan Islam.
    Ketika itu dinasti Islam yang sedang berkuasa dinasti Umayah yang dipegang oleh kholifah Al-Walid bin Abdil Malik. Permintaan dua kelompok yang bersekutu untuk mengalahkan Roderik tersebut diterima oleh Musa Ibn Mushair (Gubernur Jenderal Afrika Utara) setelah mendapat izin dari Kholifah Walid bin Abdul Malik. Musa kemudian menginstruksikan Tharif bin Malik dengan membawa lima artus orang tentara. Pasukan ini sebenarnya tidak lebih dari sebuah pasukan pengintai. Dan dengan beberapa waktu yang singkat beberapa pelabuhan di Spanyol telah terkuasai di tahun 710 itu juga. Melihat kemenangan ini Musa tertarik untuk mengadakan serangan lanjutan dengan mengerahkan pasukan pilihan sebanyak tujuh ribu orang dengan pimpinan Tharik bin Ziyad.Untuk menangkis serangan ini Roderik mengerahkan seratus ribu tentara, maka terjadilah apa yang dinamakan perang xerez. Pada tahun 711 akhirnya Roderik dapat dikalahkan, maka berkuasalah orang-orang Islam di negeri itu. Selanjutnya menguasai seluruh kota penting di Spayol, mulai dari Saragosa sampai Navarre.
    Kelancaran pasukan Islam dalam meraih sukses menaklukan seluruh daratan Spayol yang hanya menghabiskan waktu dua tahun itu sangat membuat kagum para ahli sejarah.
    Dalam proses penaklukan Spanyol tersebut, terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa dalam memimpin pasukan sehinggga meraih kesuksesan. Mereka adalah Tharif Ibn Malik yang dikenal sebagai perintis dan penyelidik, Tharik Ibn Ziyad dan Musa Ibn Nusahair sebagai penaluknya.

    C. Periodisasi dan Perkembangan Islam di Spanyol
    Sejak pertama kali menginjakan kaki di tanah Spanyol hingga jatunya kerajaan Islam terakhir di sana, Islam memainkan peranan yang sangat besar. Pada masa itu berlangsung lebih dari satu setengah abad. Sejarah umat Islam yang dilalui umat Islam di Spanyol itu dapat dibagi menjadi enam periode, sebagai berikut.
    1. Periode Pertama (711-755M)
    (Masa Transisi)
    Pada periode ini Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang diangkat oleh khalifah Bani Umayah yang berpusat di Damaskus. Peralihan kekuasaan pusat Damaskus kekuasaan berdiri sendiri tanpa ikatan langsung, baik aturan kekuasaan maupun teknis kekuasaan ke khalifahan (keamiran). Pada periode ini stabilitas politik negeri Spayol belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih banyak baik datang dari dalam maupun datang dari luar.
    Gangguan dari dalam, yaitu adanya ketidak mantapan kebijakan yang mengakibatkan perselisihan di antara elit penguasa yang dapat mengakibatkan benturan politik yang disebabkan adanya perbedaan etnis dan golongan. Adanya perbedaan kebijakan kholifah pemegang kendali kekuasaan yang berpusat di Damaskus dan penguasa yang berpusat di Kairawan Afrika Uatara, perbedaan padangan dan persepsi yang seolah-olah kontroversi sehingga mengakibatkan munculnya lawan politik yang dapat mengganggu stabilitas pemerintahan. Kemudian suku Barbar yang berada di Afrika Utara membuat suatu gerakan untuk memerangi Arab Selatan (Yaman) yang dianggap telah banyak mempengaruhi kemantapan strukturalisasi kekuasaan khalifah di Kairawan Afrika Utara .
    Gangguan dari luar, datangnya dari sisa-sisa musuh islam selama kurang lebih 500 tahun, mereka mengadakan gerakan terselubung untuk merongrong dan menghancurkan kembali kekhalifahan Bani Umayah Spanyol yang dianggap telah banyak berkiprah dalam memperkuat posisi umat islam di Eropa.
    Pada periode ini Spanyol belum mengadakan kegiatan pembangunan dibidang peradaban dan kebudayaan, di sebabkan pada periode ini sering terjadi konflik internal dan berperang menghadapai musuh dari luar.

    2. Periode kedua (755-912)
    (Masa Kekuasaan Abdurahman I Ad-Dakhil)
    Gangguan dari dalam maupun dari luar yang mengakibatkan krisis di segala bidang dimana dapat menggoyahkan stabilitas pemerintahan, diakhiri dengan datangnya Abdurahman I sebagai unsur penguasa khalifah Bani Umayah di Damaskus yang di koyak dan dipecah belahkan posisi kekuasaannya oleh lawan politik yang merasa lebih berhak melanjutkan kekhalifahan.
    Sejak mulai masuknya Abdurahman I itu ke negeri Spanyol dan berdiri kerajaan bani Umayah sebagai semboyan dari yang telah hapus di Timur itu meskipun tidak memakai gelar khalifah, hanya memakai gelar amir saja masa sangatlah teratur dan sangat maju negeri selama dalam pegangan amir-amir bani Umayah itu. Pada periode ini umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan-kemajuan baik, dalam bidang politik maupun dalam bidang peradaban. Dan pada periode ini di Spanyol terdapat beberapa penguasa yaitu :Abdurahman Ad-Dakhil sebagai pendiri kota Cordova dan sekolah-sekolah, Hisyam I yang dikenal sebagai berjasa dalam penegakan hukum-hukum dan Hakam yang dikenal sebagai pembaharu dalam bidan kemiliteran, sedangkan Abdurahman Al-Autsah dikenal sebagai penguasa pecinta ilmu.
    Landasan pemahaman keilmuan didapatkan dari pengalaman semasa kemajuan ilmu dan peradaban banu Umayah Damaskus, dan masa-masa kegemilangan daulat Abbasiyah As-Syafah dan Al-Mansyur pengalaman kemajuan diberbagai bidang ilmu tersebut memotivasi semangat tinggi Abdurahman I (Ad-Dkhil), Sehingga banyak jasa yang ditampilkan Abdurrahman I ini, sehingga bangsa lain merasa kagum dengan kemajuan yang diraihnya.Tidak sedikit bangsa lain yang berdatangan menjumpai kota Spayol hanya sekedar untuk melihat dari dekat tentang kemajuan ilmu pengetahuan, peradaban, dan tidak sedikit pula yang langsung terjun mengadakan pendekatan ilmu pengetahuan melalui penterjemahan-penterjemahan.
    Setelah Abdurahman meninggal, beliau digantikan oleh anaknya Hisyam. Beliau adalah seorang administrator yang lembut dan pemurah sehingga dengan memanfaatkan kesempatan dari kemurahan hatinya, para saudaranya sendiri bangkit menentangnya, tak lama setelah naik tahta, tetapi mereka dapat ditundukan, dan kekuasaan bani Umayah pulih kembali.
    Hisyam meninggal dunia tahun 180 H/796 M, setelah memerintah selama delapan tahun, dia adalah seorang penguasa yang adil dan dermawan, sangat taat beragama dan menjadi teladan dalam kebajikan.
    Setelah Hisyam wafat, anaknya Hakam menggantikanya (180-207 H / 796-822 M). Hakam harus banyak menghadapi banyak kesulitan ketika dia naik tahta dia dikelilingi oleh banyak musuh dari semua pihak, pamanya sendiri menentang dia, salah seorang dari mereka yang bernama Abdullah pergi ke Charmalega di Aix-la Chapella dan meminta bantuan ke Raja Frank. Dengan bantuan orang Frank , dia merebut Toledo dan Sulaeman saudara Abdullah menduduki Valencia pada waktu yang sama Lois dan Charles memasuki wilayah muslim dan Al-Farso ketua Golicia dan Aragon.
    Akan tetapi, Hakam bukan orang yang bisa ditakut-takuti, dia menghadapi situasi tersebut dengan penuh keberanian dan kebulatan tekad. Dia mengalahkan orang Golicia dan orang Frank dari negeri, kemudian dia beralih ke Toledo. Hakam meninggal dunia pada tahun 207 H/822M, setelah memerintah selama dua puluh tahun. Pemerintahannya merupakan lanjutan dari serangkaian perjuangan dan kesulitan yang terus menerus.
    Hakam meninggalkan harta pusaka yang sangat berlimpah kepada anaknya, Abdurahman yang pemerintahanya “Damai dan cemerlang”.
    Pada masa Abdurahaman II kebijakan-kebijakan yang telah diwariskan Abdurahman I dimana tidak seluruhnya dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya, sehingga posisi pemerintahan yang stabil dan teratur berubah menjadi semraut kerena beberapa faktor yang melatarbelakanginya.
    Perjalanan kekuasaan Abdurahman II ini diakhiri dengan rentetan peristiwa yang tidak dapat dikendalikan kembali dan ini menjadi peluang emas bagi Abdurahman An-Nasir untuk melanjutkan dan menata kembali pemerintahan yang lebih teratur dan terarah.

    3. Periode ketiga (912-1013 M)
    (Masa Kekuasaan Abdurahman III An-Nasyir )
    Setelah Abdurahman II meninggal, lemahlah kekuasaan itu bertahun-tahun lamanya. Telah berganti-ganti Amir naik kian diganti kian lemah. Lalu datang Abdurahman III, seorang raja teramat lama memerintah, yaitu 50 tahun. Periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abdurahman III yang bergelar An-Nasir sampai munculnya Muluk Al-thawaif. Pada perode ini Spanyol diperintah oleh penguasa dengan gelar khalifah. Khalifah-khalifah besar yang memerintah pada periode ini ada tiga orang, yaitu Abdurahman Al-Nasir 912-916M), Hakam II(916-976 M), dan Hisyam II (976-10009 M).
    Pada periode ini umat Islam Spayol mencapai puncak kemajuan dan kejayaan menyaingi kejayaan Daulat Abbasyiah di Bagdad. Abdurrahman Al-Nasir mendirikan Universitas Cordova, perpustakaanya memiliki koleksi ratusan ribu buku.
    Dibawah pemerintahannya, peradaban sangat maju dalam segala aspek selama masa pemerintahanya, arsitektur tumbuh dengan subur. Menurut laporan para sejarawan, cordova mempunyai 300 mesjid, 100 istana yang sangat indah, 13000 rumah dan 300 pemandian umum. Abdurahman adalah penguasa yang paling lembut dan paling cendekia yang penah duduk di kerajaan Spanyol. Kedermawanan dan kecintaan akan keadilan diakui oleh kawan maupun lawan.
    Selanjutnya pola pemerintahan dipegang oleh Hakam II (961-976 M) yang berupaya mengatur dan menertibkan kembali aturan dan kebijakan-kebijakan yang telah dilaksanakan Abdurahman Al-Nasir. Pada awal kekuasaannya, Hakam II membangun sarana peribadatan, mendirikan dan memperbaiki sarana pendidikan. Pembangunan berlangsung dengan cepat berkat perhatian dan bantuan dari seluruh lapisan masyarakat yang bersatu padu bekerja saling bahu membahu.
    Pada pemerintahan Hakam II, perpustakaan yang telah dibangun Abdurahman Al-Nasir dilengkapi kembali dengan berbagai disiplin ilmu sehingga terdapat kurang lebih 1700 judul buku yang berasal dari negara-negara Islam. Selama 15 tahun Hakam II menjalankan roda pemerintahan, terdapat banyak perubahan terutama di bidang pendidikan tetapi rongrongan bermunculan dengan warna yang masih berlainan sehingga terjadi perbedaan kebijakan yang akhirnya dapat mengakibatkan perpecahan atau dikenal dengan Muluk Al-Thawaif.
    Hakam II meninggal dunia pada tahun 366 H /976 M, dan bersamanya, berakhirlah keagungan pemerintahan Umayah di Spanyol. Kemudian tahta kerajaan diambil alih oleh anaknya Hisyam II yang baru berumur 11 tahun. Karena Hisyam II belum layak untuk urusan negara, pemerintahan diserahkan kepada ibunya, seorang wanita yang sangat cakap, dan wakilnya yang terpercaya, Muhammad Ibn Abi Amir yang padanya tugas raja yang masih kecil itu diserahkan oleh Hakam semasa hidup.
    Disinilah kiranya awal kehancuran khalifah bani Umayah di Spanyol, karena mengingat usia seorang pemimpin yang masih sangat muda sekali. Terutama setelah meninggalnya pemimpin besarnya yaitu Ibn Abi Amir, dimana kekacauan di dalam negeri merajalela, terutama sekali setelah puteranya, Abdul Malik meninggal dunia pada tahun 399 H, dan kejadian ini mengakibatkan pengaruh Umayah di Afrika hilang dengan segera.

    4. Periode keempat (113-1086 M)
    (Masa Kekuasaan Mulukut Thawaif)
    Pada masa ini, terpecah menjadi lebih dari tiga puluh negara kecil dibawah pemerintahan raja-raja golongan atau Al-Mulukut Thawaif, yang berpusat di suatu kota seperti Sevilla, Cordova, Toledo dan sebagainya.
    Pada periode ini umat Islam di Spanyol kembali lagi memasuki masa pertikaian intern. Ironisnya, Kalau terjadi perang saudara, ada diantara pihak-pihak yang bertikai itu yaitu yang meminta bantuan pada raja-raja Kristen. Adapun seringnya pertikaian intern, karena munculnya bentrokan diantara kerajaan yang masing-masing mempunyai kebijakan kontroversi, sehingga mengakibatkan terjadinya perselisihan yang menjurus kepada perpecahan intern kerajaan itu sendiri.
    Suasana kenyamanan dan kedamaian sudah tidak tampak lagi ditengah-tengah masyarakat. Konflik politik dan suasana mencekam mewarnai kota-kota di Spanyol, seolah-olah penguasa istana akan jatuh dan tidak berkuasa lagi hari itu, berkat bantuan penguasa Afrika Utara, kota Spanyol berjalan normal kembali meskipun tidak seperti apa yang diharapkan.
    Oleh karena situasi yang semakin memanas, maka diawal tahun 1086 M, diundanglah kelompok kekuatan penguasa Afrika Utara yang dikenal dengan Muwahidun untuk menyeleseikan kemelut beralatan etnis tersebut.

    5. Periode Kelima (1086-1248 M)
    (Masa kekuasaan Murabbitun dan Muwahidun)
    Pada tahun 1086-1143 M), kelompok penguasa Murabbitun yang dipimpin Yusuf Ibn Taspin dan Muwahidun (1148-1235 M), yang dipimpin oleh Ibn Tumarat dari Afrika Utara turut berperan menangani kemelut politik yang semakin memburuk. Dalam perjalanan yang cukup panjang kelompok Muwahidun dari Afrika Utara mengatasi perpecahan di Spayol dengan menata dan mengatur kembali kota yang pecah dan semraut. Selama 57 tahun Spanyol dikendalikan Yusuf dengan meredam kembali sengketa yang terus bermunculan, sedangkan perkembangan ajaran Islam tidak ada peningkatan yang berarti. Begitu pula masa Muwahidun selama 86 tahun menangani masalah-masalah yang terjadi melanjutkan kebijakan yang telah dilaksanakan Yusuf.
    Pada tahun 1328 M, Cordova sebagai pusat umat Islam yang didalamnya terdapat lembaga-lembaga pendidikan dan pusat-pusat kajian ilmu pengetahuan, jatuh ketangan bangsa Nasrani yang selama 500 tahun telah memimpikan kehadirannya kembali kota tersebut. Kekuatan Islam terus semakin menciut dengan wibawanya terus menurun tajam, sehingga hanya Granadalah umat Islam bertahan dibawah kendali pemerintahan Bani Ahmar.

    6. Periode Keenam (1248-1492 M)
    (Masa Kekuasaan Bani Ahmar)
    Pada periode ini, Islam hanya berkuasa di daerah Granada, dibawah dinasti bani Ahmar (1232-1492 M). Peradaban mulai mengalami kemajuan seperti di jaman Abdurahman An-Nasir. Akan tetapi secara politik, dinasti ini hanya berkuasa di wilayah yang kecil. Meskipiun demikian Granada terpaksa menjadi jajahan Castille. Hal ini karena bangsa tidak pula senang diam di dalam mencarari upaya mengembalikan kemerdekaan mereka.
    Kemudian mereka mempersatukan dua kerajaan yang kuat, yaitu negeri Araqon dan Castillia dengan perkawinan raja masing-masing, yaitu Ferdinan dan Isabela . Setelah mereka kawin, mereka persatukan kekuatan memerangi kerajaan Granada yang masih tinggal sebuah itu, yaitu dalam tahun 1942 M, dan rajanya yang paling akhir yaitu Abu Abdullah terpaksa mengaku takluk dan meninggalkan negeri itu.
    Dengan demikian berakhirlah kekuasaan umat Islam di Spanyol. Umat Islam setelah dihadapkan dua pilihan, masuk Kristen atau pergi meninggalkan Spanyol. Pada tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi umat Islam di daerah ini.


    D. Prestasi Peradaban Islam di Spanyol
    Selama tujuh abad lebih Islam telah berkuasa di Spanyol. Banyak prestasi di bidang peradaban yang telah dihasilkan oleh umat islam di sana. Prestasi itu meliputi kemajuan bidang intelektual dan sarana fisik.
    - Dalam bidang intelektual diantaranya:
    a. Filsafat
    Sejak abad XII, Spanyol telah melahirkan sejumlah besar filsuf, diantaranya Ibn Bajah, Ibn Taufal, Ibn Rusdi, Ibn Majmur, dan Arabi yang memberikan pengaruh dibelahan Timur dan Barat sehingga abad ini penuh dengan kejayaan filsafat.
    b. Sains
    Ilmu-ilmu kedokteran, musik, matematika, astronomi, kimia dan lain-lain juga berkembang dengan baik. Abbas Ibn Farnas termashur dalam ilmu kimia dan astronomi dialah orang yang pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu.
    Ibrahim Ibnu Yahya Al-Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi, ia dapat menentukan waktu terjadinya gerhana matahari dan menentukan lamanya. Ahmad Ibn Abbas dari Cordova adalah ahli dalam bidang obat-obatan, Umi Al-Hasan bint Abi Ja’far dan saudara perempuan Al-Hafidz adalah dua orang ahli kedokteran dari kalangan wanita. Ibnu Jubair, adalah ahli sejarah dan geografi.
    c. Fiqh
    Dalam bidang fiqh, Spanyol Islam dikenal sebagai penganut madzhab Maliki. Yang memperkenalkan madzhab ini disana adalah Ziyad Ibn Abd Arahman perkembangan selanjutnya ditentukan oleh Ibnu Yahya yang menjadi Qodhi pada masa Hisyam Ibn Abd Arahman. Ahli-ahlinya, diantaranya adalah Abu Bakar Ibn Al-Qathiyan, Munzir Ibn al-Butuhi dan Ibn Hasan yang terkenal.
    d. Musik dan Kesenian
    Dalam bidang musik dan seni suara, Spayol mencapai kecemerlangan dengan tokohnya Al-Hasan Ibn Nafi yang dijuluki Zariyab. Setiap kali diselenggarakan pertemuan dan jamuan, Zariyab selalu tampil mempertujukan kebolehanya ia juga terkenal sebagai penggubah lagu. Ilmu yang dimilikinya itu diturunkan kepada anak-anaknya baik pria maupun wanita, dan juga kepada budak-budaknya. Sehingga kemashuranya tersebar luas.


    E. Faktor-faktor Pendukung Kemajuan Peradaban Islam di Spanyol
    Faktor pendukung bagi kemajuan peradaban Islam di Spanyol oleh adanya penguasa-penguasa yang kuat dan berwibawa, yang mampu mempersatukan kekuatan-kekuatan umat Islam, seperti Abd Al-Rahman al-Adakhil, Adb al-Rahman al-Nashir.
    Keberhasilan tersebut, juga didukung oleh penguasa-penguasa Islam Spanyol lainnya yang mempelopori kegiatan-kegiatan ilmiyah, diantaranya Muhammad ibn Abd al-Rahman dan al-Hakim II al-Muntashir.


    F. Sebab-sebab Kemunduran dan Kehancuran Islam di Spayol
    1. Konflik Islam dengan Kristen
    Para pengusa muslim tidak melakukan islamisasi secara sempurna, mereka membiarkan kerajaan-kerajaan kristen mempertahankan hukum dan adat mereka, sehingga dengan demikian, kehadiran Arab Islam telah memperkuat rasa kebangasaan orang-orang Spayol kristen. Hal itu menyebabkan kehidupan negara Islam di Spanyol tidak pernah berhenti dari pertentangan antara Islam dan Kristen. Pada abad 11 M, umat Kristen memperoleh kemajuan pesat, sementara umat Islam sedang mengalami kemunduran.

    2. Tidak adanya Ideologi Pemersatu
    Politik bani Umayah yang di Damaskus, diamana orang-orang Arab tidak pernah menerima orang-orang pribumi, mereka masih memberi istilah “Ibad” dan Muwalladun kepada para Muwallah itu, suatu ungkapan yang merendahkan. Akibatnya, kelompok etnis non-Arab itu sering menggorogoti dan merusak perdamaian. Hal ini menunjukan tidak ada ideologi yang dapat memberi makna kesatuan.

    3. Depisit Ekonomi
    Di paruh kedua masa silam islam di Spanyol, para penguasa membangun kota dan membangkitkan ilmu pengetahuan dengan sangat serius, sehingga lalai membina perekonomian. Akibatnya timbul kesulitan ekonomi yang amat memberatkan dan mempengaruhi politik dan militer.

    4. Tidak Jelasnya Sistem Peralihan Kekuasaan
    Dengan tidak jelasnya sistem tersebut, mengakibatkan perebutan kekuasaan diantara ahli waris. Bahkan, dengan ini kekuasaan bani Umayah runtuh dan Mulukut Thawaif muncul.

    5. Keterpencilan
    Spanyol Islam bagaikan terpecah dari dunia islam yang lain. Ia selalu berjuang sendiri, tanpa mendapatkan bantuan kecuali dari Afrika Utara dengan demikian tidak ada kekuatan alternatif yang mampu membendung kebangkitan Kristen di sana.


    G. Penutup
    Dari semua pembahasan di atas, umat Islam di dunia dapat mengetahui bagaimana keberadaan umat Islam di Spanyol, dengan segala kelebihan dan kekuarangannya itulah kenyataan yang ada. Meskipun pada akhirnya umat Islam mengakhiri dengan suatu kepahitan, semua itu tinggalah kenangan bagi kita sebagai umat Islam.
    Silsilah Keturunan Amir Umayah dari Spanyol

    Hisyam

    Muawiyah

    1. Abd. Rahman (756-788 M)

    2. Hisyam (788-796 M)

    3. Hakam (796-822 M)

    4. Abdurahman II (822-856 M)

    5. Muhammad I (856-886 M)


    6. Munzir ( 886-888 M) 7. Abdullah (888-912 M)

    Muhammad

    8. A. Abdurahman III
    (912-929); Khalifah (929-961 M)

    DAFTAR PUSTAKA
    - Yunus Ali al- Almuhdar, Toleransi-toleransi Islam, Bandung, Iqea Cet, I, 1983
    - Amir Hasan Sidiq, Study Islam in Islamic History, Al-Maarif , Bandung, 1987
    - Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2000
    - M. Thohir, Sejarah Islam dari Andalus sampai Indus, Pustaka Jaya, Jakarta, 1981
    - Pilip K. Hitti., Dunia Arab Terj. Usuludin Hutalugung & ODP Sihombing, Bandung, Sumurbandung, t.t.
    - Hamka, Sejarah Umat Islam, Edisi Baru, Singapura, Pustaka Nasional, 1994
    - Dayat Zaenal Toha, Kajian Materi Sejarah Kebudayaan Islam, Fak. Adab
    - K.Ali, Studi Sejarah Islam,Anggota IKAPI, Bina Cipta, 1995
    - Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, UI Press, Jakarta, 1985
    - Ma’ruf Misbah, Sejarah Peradaban Islam, Semarang,Wicaksana, 1991
    - Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam (ED) Andalus , Ictiar Baru Van Hoeve, 1994....[kembali]
    FotoFotoFotoFotoFotoFoto

    ©2012 PUSTEKOM STISIP WIDYAPURI MANDIRI SUKABUMI