• ew
  • Peran Komunikasi Politik Di Indonesia
  • peran serta masyarakat dalam membangun bangsa yang jujur dan bersih
  • KEMISKINAN ; KEBIJAKAN DAN PROGRAM PENANGGULANGANNYA DI KABUPATEN SUKABUMI H. Asep Hikmat
  • PROSPEKTIF DAN FENOMENA FILSAFAT DALAM DUNIA PENDIDIKAN U. Abdullah Mu’min
  • REFLEKSI KEJAYAAN PEMERINTAHAN ISLAM DI SPANYOL Maman Hidayat
  • ANALISIS KEBIJAKAN PEMANFATAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENDIDIKAN. H. Herri Azhari
  • Peluang dan Tantangan Penerapan Demokrasi Pascatransisi Hubungan Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah dalam Konteks Penanggulangan Kemiskinan Muhamad Saendinobrata
  • POSISI KURIKULUM DALAM PENDIDIKAN H. Herri Azhari
  • “PERMINTAAN” DALAM ILMU EKONOMI Hj Lidiawati, SE. M.Pd
  • SISTEM INFORMASI MANAJEMEN DALAM INSTITUSI PENDIDIKAN PERGURUAN TINGGI Ir. H. Kusman Nur, MM.
  • FILSAFAT DEKONSTRUKSI DAN REKONSTRUKSI U. Abdullah Mu’min
  • “MEMBACA”, PERJALANAN KEPEMIMPINAN KHULAFAURRASYIDIN (Khalifah Utsman dan Ali RA.) Maman Hidayat
  • KEBIJAKAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (H. Asep Hikmat)
  • ”KORUPSI ” SUATU FENOMENA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH (Muhammad Saendinobrata)
  • ”KORUPSI ” SUATU FENOMENA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH
  • APLIKASI MANAJEMEN MUTU TERPADU DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PELAYANAN PUBLIK DI PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN SUKABUMI
  • IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL DAN PERUBAHAN POLA KONSUMSI ENERGI RUMAH TANGGA (Studi Kasus Kabupaten Sukabumi)
  • ANALISIS STRUKTUR JEJARING KEBIJAKAN PUBLIK PEMBANGUNAN DESA Implikasi Implementasi Undang-Undang tentang Pembangunan Desa
  • RUU Perguruan Tinggi Batal Disahkan
  • Akan Terbang Kemanakah Negeri Ini?
  • Peran Administrasi Publik
  • Sistem Pemerintahan Indonesia
  • Sejarah PEMERINTAHAN INDONESIA
  • Cara membuat Undang-Undang
  • Pegawai NEGERI SIPIL SEBAGAI ABDI NEGARA DAN ABDI MASYARAKAT
  • Artikel lainnya...


    FILSAFAT DEKONSTRUKSI DAN REKONSTRUKSI U. Abdullah Mu’min
    (27 November 2013)
    PENDAHULUAN
    Filsafat sebagai sebuah ilmu, eksistensinya terus mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Di satu sisi filsafat hadir dengan memberikan solusi atas segala problematika keumatan, khususnya dengan pemikiran-pemikiran dan juga methode-methode yang dirasa “ampuh” mengatasi beragam masalah. Di sisi lain, nampaknya filsafat juga “tahu diri’ untuk terus “berbenah diri” mengikuti perkembangan zaman, yang wujudnya terungkap melalui pemahaman manusia atas eksistensi filsafat itu sendiri yang pada akhirnya melahirkan pemikiran baru. Bahkan tak jarang pemikiran baru itu mengabaikan, malah sampai pada taraf “menggugat” pemikiran filsafat sebelumnya.
    Itulah daya tarik keilmuan yang terus bersifat dinamis, tidak mengenal tanda titik, namun terus ‘berkutat’ dengan pemikiran-pemikiran baru sejalan dengan tuntutan zaman. Hal inilah yang kemudian melatarbelakangi kelahiran terma dekonstruksi dan rekonstruksi dalam kajian ilmu filsafat, sebagai langkah analisa kritik terhadap nilai-nilai pemikiran filsafat sebelumnya yang dianggap tidak memberi nilai bagi kemaslahatan manusia, malah implikasinya lebih mengarah pada upaya prilaku destruktif. Bertentangan dengan hakikat filsafat yang memberi nilai bagi kehidupan manusia.
    Dengan masuknya kajian dekonstruksi dan rekonstruksi dalam kajian filsafat, mengarahkan pada mempertanyakan suatu masalah sampai menembus hakekat secara mendalam, sistematis, radikal, universal dan logic sejalan dengan eksitensi dan substansi filsafat. Dalam hal ini filsafat dekonstruksi dan rekonstruksi berupaya melahirkan pemikian baru dengan “menggugat” pemikiran sains modern yang dianggap tidak relevan, sekaligus merekayasa dan menawarkan “pemikiran baru” yang dianggap merepresentasi kebutuhan zaman inheren dengan eksistensinya sebagai ilmu.
    Makalah ini mencoba mengungkap filsafat dekonstruksi dan rekonstruksi mulai dari sudut terminologi, latarbelakang kelahirannya dengan mengungkap setting sosiologis dan antropologis, serta diakhiri dengan tokoh-tokoh berikut pemikiran-pemikirannya.


    TERMINOLOGI DEKONSTRUKSI DAN REKONSTRUKSI
    Kata dekonstruksi biasanya disertai kata selanjutnya dengan rekonstruksi, yang berlaku untuk semua disiplin ilmu. Dengan kata rekonstruksi semata, nampaknya kurang lengkap bila tanpa ditambahi dengan rekonstruksi pada kata selanjutnya. Karena dengan hanya dekonstruksi yang hanya pada level kritik, membantah bahkan menggugat, bila tanpa disertai rekonstruksi yang langsung menyentuh dataran praksis solutif, tampak kurang sempurna. Orang mungkin bisa untuk mengkritik dan menolak pemikiran pihak lain, tapi belum tentu mampu memberi solusi atas kritikan dan penolakannya itu.
    Dari sudut keilmuan dalam Filsafat, dekonstruksi tidak lebih upaya untuk menilai ulang kajian pemikiran modernisme yang begitu besar implikasinya bagi tatanan kehidupan manusia dalam setiap lini; sosial dengan muculnya beragam prilaku dekandensi moral dan kesenjangan sosial yang cukup tinggi; ekonomi, dengan melahirkan unsur kapitalisme dan budaya konsumsi masyarakat yang sangat berlebihan; politik,terbangunnnya sistem kompetisi ketat yang mengabaikan norma dan hak-hak manusia dengan memunculkan jargon siapa yang kuat dia yang menang, dalam kesehatan dengan kemunculan polusi udara akibat keruksakan alam yang mengakibatkan munculnya beragam penyakit, dan lain-lain yang semuanya sulit untuk dihindari.
    Dalam hal ini kelahiran filsafat post-modernisme yang tiada lain produk dari filsafat dekonstruksi, adalah upaya-upaya untuk mengkritisi implikasi sains modern yang sangat membahayakan kehidupan manusia. Ditambah lagi dengan munculnya filsafat rekonstruksi, yang berusaha mulai menyusun kembali kekuatan solutif, sekaligus sebagai antisipasi dan solusi dari implikasi sains yang dianggap malah justru tidak memanusiakan manusia dan lingkungannya.
    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, rekonstruksi mengandung makna pengembalian sebagai semula, atau penyusunan (penggambaran) kembali. Ini berarti rekonstruksi mengarah pada usaha pengembalian nilai-nilai yang diyakini kebenarannya baik dalam tataran norma-norma agama, maupun dataran non-agama yang diyakini kebenarannya secara universal, yang dirasakan “hilang” teredusir dan terabaikan oleh dinamika zaman sampai akhirnya tidak mendapat porsi dalam prilaku keseharian masyarakat. Karena itu, rekonstruksi bukan membentuk nilai-nilai yang baru sama sekali, melainkan menata, mereka, dan memperagakan kembali nilai-nilai yang sudah berlaku sebelumnya.

    LATARBELAKANG KELAHIRAN DAN POKOK PIKIRAN FILSAFAT DEKONSTRUKSI DAN REKONSTRUKSI

    Perkembangan zaman dewasa ini telah menghantarkan masyarakat untuk berubah, beranjak menuju perubahan di segala bidang. Era modernisasi dan industrialisasi sebagai produk sains modern yang menyeruak masuk dalam tatanan masyarakat sedikit banyak berimplikasi pada tatanan kehidupan bermasyarakat. Secara psikologis, manusia dalam perkembangannya menginginkan tampil beda, baik dari sudut sikap maupun tingkah laku. Akibatnya, kadang-kadang nilai-nilai ritual dan lokal yang sekian lama diyakini kebenarannya, dipatuhi dan dijalankan dalam komunitas besama-sama berangsur-angsur memudar, desakan tuntutan modern.
    Namun demikian, bahwa perubahan yang terjadi telah memberikan kebaikan yang luar biasa bagi umat manusia. Hal ini tampak misalnya pada bidang sosial, ekonomi, budaya maupun politik. Tetapi disadari di balik kemajuan-kemajuan yang ada, perubahan juga ikut mewarnai implikasi negatif yang tidak mungkin dihindari dan berdampak luas bagi kehidupan sosial termasuk kehidupan umat beragama, seperti yang dikatakan Emile Durkheim bahwa perubahan struktural dan kultural dalam kehidupan sosial mempunyai pengaruh kuat terhadap terciptanya proses pengasingan perangkat nilai yang berlalu dalam kehidupan sosial.
    Salah satu penyebab yang cukup penting dicatat adalah bahwa perubahan yang mengembangkan kemajuan di berbagai sektor itu juga mengembangkan kesenjangan-kesenjangan individu dan antara bidang-bidang dalam kehidupan sosial itu sendiri. Akibatnya masyarakat manusia yang ada di dalamnya akan saling bersaing dan berpacu dengan metode-metode pilihan yang dapat mempercepat pencapaian dalam upaya mobilisasi yang ditempuhnya.
    Tidak dapat dipungkiri, dari produk-produk sains modern yang menghasilkan industrialisme, sekulerisme, rasionalisme, individualisme, hedonisme, dan kapitalisme menyebabkan terjadinya transformasi sosial dan kultural yang pesat akibat diterapkannya ilmu pengetahuan dan teknologi. Dominasi ilmu pengetahuan dan teknologi akan menyebabkan peranan agama tereduksi dalam prsose-proses pengambilan keputusan di bidang sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya. Begitu juga, dominasi ilmu pengetahuan dan teknologi akan menggeser pertimbangan-pertimbangan agama dalam proses dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kehidupan sosial. Di sini, nampaknya peran agama terabaikan, bahkan tereliminir, dan masyarakat semakin digiring oleh iklim kondusif dari produk-produk sains modern
    Secara sosiologis, pandangan ini mengisyaratkan bahwa produk sains modern akan mengakibatkan keterkejutan sosial kususnya bagi masyarakat yang berkembang. Ketidaksiapan perangkat mental dan jiwa masyarakat seringkali berbenturan dengan proyek sains modern yang tidak seimbang, yang akhirnya membentuk masyarakat yang pasif dan menjadi obyek dari pengembangan itu sendiri.
    Bagi negara maju seperti Amerika pun, implikasi industrialisasi tidak bisa dihindarkan. Hasil penelitian membuktikan, industri mempunyai pengaruh langsung dan tidak langsung, kadang-kadang bersipat drastis pada lembaga-lembaga lain di masyarakat, karena harus memainkan peran industrial. Maka pria dan wanita harus mengadopsi nilai dan tujuan peran-peran tersebut.
    Bahkan menurut Fritjof Capra, pada awal dua dasa warsa terakhir abad ke dua puluh, kita menemukan diri kita berada dalam suatu krisis global yang serius, yaitu suatu krisis komplek dan multidimensional yang segi-seginya menyentuh setiap aspek kehidupan kesehatan dan mata pencaharia, kualitas lingkungan dan hubungan sosial, ekonomi, teknologi dan politik. Krisi ini merupakan krisis dalam dimensi-dimensi intelektual, moral, dan spritual; suatu krisis yang belum pernah terjadi dalam catatan sejarah manusia.
    Latarbelakang krisis multidimensional ini yang kemudian melahirkan kesadaran manusia untuk menata kembali kehidupan yang harmonis dengan menjungjung nilai martabat kemanusiaan dan perhatian yang tinggi pada lingkungannya. Karena itu, produk sains modern yang kemudian didekonstruksi dapat dilihat dalam diagram berikut;





    Ekonomi Politik & Kekuaasaan Pemikiran Etika Keyakinan

    Materialisme Militerisme Rasionalisme Individualisme Sekulerisme
    Industrialisme Tribalisme Emprisme Nudisme
    Kapitalisme Hedonisme








    Karena itu, kritik post-modern terhadap sains modern terungkap dalam dekonstruksi seperti yang digunakan oleh para tokoh filsafat postmodern. Rasionalisme yang menjadi karakter pemikiran sains modern khususnya yang digunaknan untuk membangun seluruh isi kebudayaan Barat, didekonstruksi oleh post modern. Tokoh-tokoh besar filsafat dekonstruksi dan juga dekonstruksi dalam hal ini dapat diwakili seperti Arkoun, Sayyed Nasher, dari kalangan Islam, dan dari tokoh Barat diwakili oleh Derrida, Foucault, Wittgenstein, Fritjof Capra, dan Fritjhof Schuon. Sedangkan Ahmad Tafsir berpendapat Nietzsche adalah tokoh pertama yang sudah menyatakan ketidakpuasannya terhadap dominasi atau pendewaan rasio pada tahun 1880-an.
    Karena dianggap proyek sains modern gagal dalam wujud eksistensi masyarakat modern yang menghadapi sejumlah krisis serius. Terbukti tampak pada perusakan lingkungan, disparitas kemakmuran, kelaparan, diskriminasi rasial, ledakan penduduk, polarisasi dunia, ketidakseimbangan pembangunan ilmu dan teknologi, puncak krisi ekonomi dunia, ancaman perang nuklir, dan kesenjangan sosial yang begitu mengentara.
    Maka muncullah kecenderungan baru yang berupaya mengatasi devisionisme, reduksionisme, dan segala macam kegagalam modernisme itu. Kecenderungan itulah yang memformulasi pemikiran filsafat rekonstruksi yang menawarkan proyek baru bagi pembangunan, peradaban dan kemanusiaan dengan mengedepankan tema-tema spritualitas, pluralitas, heteroginitas, toleransi, keadilan, realitas kultural, persamaan hak asasi, dekonsensus, deideologisasi, dan lain-lain.
    Demikian halnya dari nilai kebenaran yang dihasilkan, dalam bukunya “The Possion of Modern Mind” dalam bab The Crisis of Modern Science, Tarnard Richard menjelaskan analisa kritis terhadap sains modern --yang methodenya bersumberkan pada tahapan logico, empirico, dan ferivikatif--, yang dianggap sangat lemah dan tidak mengakar, sekalipun analisanya itu sudah dimulai sejak Nietzshe.
    Menurutnya ada tiga kelemahan sains modern dalam mengambil suatu kebenaran. Pertama, postulat kausalitas, dimana segala sesuatu itu ada sebab akibat. Padahal tidak semua pengetahuan itu berasal dari sebab akibat, ada juga yang tidak diketahui sebab-muasalnya, muncul dari masalah kenapa?. Kedua, methode utama dari sains modern adalah observasi, dengan eksperimen sebagai bagian utamanya. Kelemahannya terletak pada alat observasi yang terbatas, demikian juga hasilnya pun akan menimbulkan penafisran yang berbeda-beda, memungkinkan wacana subyektivitas begitu kental dalam menginterpretasikan makna yang didasarkan pada hasil observasi itu. Ketiga, berangkat dari pokok pikiran di atas, kebenaran yang dihasilkan sanins modern terbatas oleh ruang (space), waktu (time) dan materi (matter).
    Akibatnya, kebenaran yang dihasilkan tidak pasti (uncertainty) karena dibatasi oleh hal-hal yang sipatnya tidak permanen, tergantung interpretasi yang mempengaruhi keadaan dan kebenaran yang sipatnya kondisional. Padahal kajian ini bermula pada sain eksak (ilmu pasti), apalagi bila diterapkan pada sains sosial yang sipatnya dinamis, tentu akan bertolakbelakang.
    Dekonstruksi kebenaran sains modern inilah yang kemudian memunculkan pemikiran rekonstruksi pada arah kearifan dan kebijaksanaan agar tidak menentukan suatu yang pasti dalam kehidupan. Konteks ini dapat dipahami dengan kemunculan pemikiran post-modern yang menganggap bahwa kebenaran itu tidak hanya dalam satu sisi saja (methode), namun kebenaran dapat ditentukan oleh berbagai methode, bahkan tidak hanya sains an-sich. Artinya, kebenaran itu bersipat luwes, bisa didapat dari sains maupun dari non-sains.
    Dalam kaitan ini, sangat relevan Syed Muhammad Naquib al-Attas mendekonstruksi sumber dan methode ilmu dari sains modern, sambil menjelaskan sumber dan methode ilmu yang merupakan upaya rekonstruksi dalam filsafat sains Islam. Pertama, indera-indera lahir dan bathin, yang tentunya bertentangan dengan filsafat dan sains modern. Hal ini berangkat dari persepsi bahwa ilmu datang dari Tuhan, dan diperoleh malalui sejumlah saluran: indera yang sehat, laporan yang benar yang disandarkan pada otoritas, akal yang sehat, dan intuisi. Ditambah lagi indera bathin yang meliputi indera umum (common sense) yang menerima data-data hasil persepsi ke lima indera lahiriah dan mengabstaksikannya menjadi “rupa” dari obyek-obyek lahiriah, representasi berarti menyimpan hasil representasi tersebut, sedangkan estimasi mempersepsikan maknanya, adapun ingatan dan pengingatan kembali menunjukan fungsi yang sama dengan representasi dalam hal makna dimana ia menyimpan makna yang telah dipersepsi oleh estimasi, dan terakhir imajinasi berarti perantara antara indera-indera bathin dengan akal. Kedua, akal dan intuisi. Akal berarti hanya terbatas pada unsur-unsur inderawi, sedangkan intuisi mengarah pada pemahaman langsung pada kebenaran agama, realitas dan eksistensi Tuhan. Ketiga, otoritas yang terbentuk melalui kesepakatan bersama yang termasuk di dalamnya sarjana, ilmuwan, dan orang-orang yang berilmu pada umumnya, serta otoritas yang dihasilkan yang dikukuhkan oleh kesepakatan umum yang bersipat mutlak yang biasanya diperoleh dari pengalaman intuitif baik yang terkait dengan pemlaman inderawi maupun transendental.
    Karena itu, lebih jelasnya pokok-pokok pikiran dari filsafat dekonstruksi dan rekonstruksi, dapat disimpulkan dalam bagan dibawah ini;
    Pokok Pikiran Filsafat Dekonstruksi Pokok Pikiran Filsafat Rekonstruksi
    • Mendekonstruksi implikasi dari nilai-nilai yang dihasilkan sains yang dirasakan justru merugikan konstruksi tatanan kehidupan manusia. Kejahatan, peperangan, keruksakan alam, polusi, keterasingan nilai-nilai spiritual, dll, adalah beberapa ciri karakter masyarakat yang melekat saat itu

    • Mendekonstruksi methode observasi dan eksperimen -- dengan tahapan logico, empirico, verivikatico-- yang memiliki keterbatasan, baik dari sisi alat yang sangat terbatas, maupun dari hasilnya yang sangat dipengaruhi unsur subyektivitas; karena memiliki keterbatasan ruang, waktu, dan materi. • Merekonstruksi nilai-nilai universal yang dapat mengkonstruksi tatanan kehidupan manusia yang harmonis dan dinamis dengan terpenuhinya kebutuhan material dan spiritual yang mencukupi.dan seimbang sehingga melahirkan tema-tema spritualitas, pluralitas, heterogonitas, toleransi, realitas kultural, dan lain-lain.
    • Merekonstruksi methode-methode yang dapat menghasilkan kebenaran yang sipatnya luwes dan universal; tidak hanya bersumberkan pada methode sains semata. Misalnya yang terdapat dalam filsafat Islam bahwa kebenaran itu dapat diperoleh dari sumber dan methode inderawi dan bathin, akal dan instuisi, serta otoritas



    Mencari kemungkinan-kemungkinan
    untuk merekonstruksi nilai-nilai


    Agama;
    yang kemudian menjadi rujukan
    (resource of reference)


    AGAMA; REKONSTRUKSI NILAI UNIVERSAL
    Ketika implikasi ilmu pengetahuan (sains) begitu hebat menguncang pola pemikiran bahkan etika berprilaku masyarakat, dimana kehancuran moral terjadi begitu meluas, akhirnya manusia sedikit demi sedikit mulai tersadarkan akan kebutuhan hidup yang dipenuhi tatanan etika keharmonisan, bahkan lebih jauh terisi dengan nilai-nilai spiritual, yang dirasa pada saat itu suatu hal yang “asing”.
    Kebutuhan akan nilai-nilai spritual itu tampaknya tidak bisa dipungkiri sebagai kebutuhan manusia di tengah keterasingan dan kegersangan hidup yang terasa begitu hampa dan tak bernilai yang pada akhirnya memunculkan eksplorasi nilai kebenaran yang dapat memenuhi kebutuhan hidup yang sempurna. Artinya, adanya keseimbagan dan kesadaran manusia akan pentingnya hidup tidak sebatas kebutuhan material, namun lebih jauh spritual, menjadi tuntutan yang tak bisa diabaikan..
    Karena tidak bisa dipungkiri, sekulerisme memisahkan filsafat dan sains dari pengaruh agama dan kemudian pula bergerak memisahkan gagasan politik, ekonomi, dan sosial serta lembaga-lembaga yang mempertimbangkan pentingnya agama pada periode abad pertengahan di Barat dari alam makna agama . Proses sekulerisasi melangkah lebih jauh pada abad ke 19 bahkan memasuki wilayah teologi, yang sampai saat ini masih secara alamiah bersatu dengan kerangka agama, dan kemudian jatuh ke bawah kekuasaan sekulerisme. Karena pada periode ini, untuk pertama kalinya filsafat di Barat memisahkan diri dari agama, kemudian meningkatkan dirinya keada sains alam dan emirik serta mengembangkan berbagai bentuk pemikiran yang sering berusaha menggantikan kebenaran agama.
    Sayyed Hossein Nasr dengan jelas menggambarkan krisis yang terjadi akibat sains modern yang melanda dunia Barat terutama kekosongan spritual, yang kemudian memunculkan eksplorasi akan fenomena religius yang dipahami bersamaan dengan yang disebut “agama-agama baru’ dan kebangkitan kembali agama-agama kuno itu adalah adalah banyaknya orang di Barat yang menengok agama-agama di Timur sebagai bimbingan dan pertolongan. Sejak awal abad ke 20 terutama sejak perang dunia kedua, banyak orang Barat yang haus akan pengalaman spritual dan pengetahuan agama tetapi tak mampu menemukan apa yang mereka cari dalam konteks keberadaan lembaga agama di Barat dan menengok agama-agama Timur. Sebagian menengok pada agama Hindu, yang lain pada Budha dan beberapa pada Islam khususnya ajaran sufi dalam Islam. Keyakinan mereka, substansi ajaran agama seringkali dimaknai kesesuaian untuk segala kondisi dan situasi, maka dalam era globalisasi dan industri para pemeluknya dituntut untuk memberi jawaban atas berbagai problem yang kini dihadapi seluruh umat manusia.
    Nampak pencarian orang Barat akan kebutuhan spritual khususnya dalam kerangka ketenangan batin, menjadi prioritas pilihan sebagian besar masyarakat akibat kejenuhan hidup yang menimpa mereka, yang tak jarang menimbulkan depresi mental karena terjebak pada rutunitas materialis yang jauh dari ketenangan dan kepuasan hati. Dan agama-agama yang menjadi pilihanpun, bukanlah sembarang agama. Artinya hanya agama yang mengedepankan alternasi manajemen hati dalam memupuk ketenangan, menjadi pilihan utama dan “tempat berpijak” unutk mengalihkan iklim modern yang dipenuhi kompetisi tinggi.

    DEKONSTRUKSI DAN REKONSTRUKSI DALAM DUNIA ISLAM
    Satu hal yang harus dicatat, peristiwa yang membangkitkan kesadaran dunia Islam setelah terjerembab dalam keterpurukan peradaban terhadap ancaman bahaya dan tantangan Barat adalah invasi Mesir oleh Napoleon pada tahun 1798. Setelah penaklukan Napoleon terhadap Mesir, kaum Muslim mulai menyadari bahwa suatu tragedi besar akan mengahancurkan dunia Islam. Terbukti bukan hanya Mesir yang kemudian diduduki, tapi negara-negara Islam lainnya.
    Semakin besar ruang kolonialisme melanda dunia Islam, semakin besar pula pengaruh sains yang dibawa dunia Barat merasuki masyarakat Islam. Apalagi Barat setelah mengalami renaisanse dan pencerahan yang dititikberatkan pada dimensi sains modern, berupaya ‘mengembangkan sayap’ menembus dunia luar termasuk Islam yang sebelumnya dikenal dengan kemajuan peradaban. Karena dekonstruksi dan rekonstruksi terkait dengan pendudukan Barat terhadap dunia Islam mulai abad akhir 18 berikut kemajuan yang dicapai Barat.
    Hal inilah yang kemudian mempengaruhi pola pikir sebagai besar masyarakat Islam yang tertarik pada kemajuan Barat khususnya dalam pengembangan keilmuan. Sikap ini, bahkan tak jarang menimbuklan pertentangan, akibat keberaniannya menantang faham tradisionalis yang menganggapnya sebagai ajaran sekuler, jauh dari misi ketuhanan.
    Pada perkembangan selanjutnya, sains modern yang langsung bersentuhan dengan dunia Islam sedikit mulai didekonstruksi agar tidak keluar dari jalur koridor ajaran agama. Namun tidak menutup kemungkinan terutama dari golongan tradisionalis yang menentang dekonstruksi ajaran agama karena mengangapnya suatu yang sakral, ‘haram’ untuk disentuh.
    Usaha dekonstruksi dan rekonstruksi yang dilakukan sebagain besar masyarakat Islam, ternyata tak dapat disalahkan. Rekonstruksi yang dilakukan ternyata lebih mengarah pada akomodasi sains modern agar dapat terasimilasi dan dapat digunakan dalam dunia Islam. Apalagi golongan ini meyakini kemajuan yang dicapai Barat tidak lebih usaha “mengambil dan merebut” kemajuan Islam.
    Islam yang mengklaim diri sebagai rahmat tidak saja bagi pemeluknya, tetapi juga bagi seluruh umat manusia. Menjadi landasan spirit bagi pengembangan keimuan Islam ke depan. Terbukti menurut Fazlur Rahman Islam mengandung dimensi unversalitas yang tidak hanya dalam sisi norma-norma yang diberlakukan, namun menyentuh dimensi praksis kehidupan bermasyarakat. Inilah yang kemudian diyakini Fazlur Rahman mengandung makna bahwa kaum muslim harus sanggup mengedepankan alternatif tidak saja dalam bentuk konsep-konsep, tetapi juga dalam bentuk institusi yang memiliki karakter integratif-inovatif dengan ekoteknikal (tata sarana), institusional (tata lembaga), ideasional (tata cita), dan evaluasional yang andal.
    Kerangka membangun rekonstruksi pemikiran dan perdaban Islam menembus dunia baru Islam, tampaknya harus disertakan syarat mutlak sebagai acuan dan landasan yang dapat memberi ruang kesalahpahaman dan ketidakberartian langkah rekonstruksi bagi dunia Islam terutama tidak keluar dari jalur sumber hukum Islam.
    Terkait dengan hal ini, menurut Malik bin Nabi ada dua syarat yang harus terpenuhi dalam rangka membangun dunia baru Islam. Pertama, kesesuaian sejarah terhadap prinsip Qur’ani, yang mengandung arti bahwa sejarah dan perdaban manusia tidak lepas dari prinsip Qur’ani yang menedepankan kejujuran, keadilan, kejelasan, kemaslahatan, dan lain-lain. Kedua, berpegang pada al-Qur’an. Artinya, konstruksi dalam mengatasi problem dunia Islam, dapat diatasi dengan mengembalikan pada al-Qur’an, sekalipun dengan melihat realitas sekarang yang terjadi di dunia Islam, sangat sulit. Tapi tidak ada jalan lain untuk merekonstruksi dunia Islam menuju dunia baru Islam.
    Dan hal inilah yang tampkanya dilakukan sebagai ilmuwan Muslim dalam kerangka merekonstruksi sains Islam yang sejalan dengan dua syarat di atas. Namun harus dipertegas dalam merekonstruksi sains Islam itu sendiri tidak lepas dari tiga persepsi awal yang hasus dipahami sebagai Sayyed Hossein Nasr menegaskan agar tidak terjadi misperseption. Pertama, bahwa sains Islam bukan sekedar kelanjutan kelanjutan dari sains Yunani serta leluhur sain Barat, melainkan tidak lebih dari penghubung antara sains kepurbakalaan, Yunani, dan Aleksandria, dengan sains Barat yang mendominasi peta keilmuan selama beberapa abad. Kedua, walaupun mereka mempengaruhi sains Barat, namun sains Islam secara mandiri menelaah fenomena, kausalitas, hubungan antara berbagai obyek mulai dari macam-macam mineral hingga tumbuhan dan hewan, makna perubahan dan perkembangan di alam serta di akhir dan tujuan alam ini. Ketiga, seluruh subyek ini ditelaah oleh sains Islam di bawah cahaya al-Qur’an dan al-Hadits dan menjadi sebentuk sains yang independen dan berbeda dari kerangka sains Barat, sehingga mampu mengapresiasi secara utuh pentingnya sains Islam untuk Islam sebagai agama dan untuk perdaban Islam.
    Inilah yang memulai periode kebangkitan intelektual telah dimulai. Konferensi dunia pertama tentang pendidikan Muslim diselenggarakan di Makkah pada tahun 1977, dan konferensi ini melahirkan serankaian makalah, buku dan konferensi. Yang juga merupakan upaya internasional otokrofik untuk “mengislamkan ilmu”, dibuat oleh sarjana-sarjana seperti Ismail al-Faruqi (1982), untuk menentang banyak ide modernis yang ada. Para pendidikan Islam seperti Ali Ashraf berupaya menciptakan “pendidikan Islam” (1979, 1985); ekonom seperti Khurshid Ahmad menggarap “ekonomi Islam” (1981); dan seperti Siddqi “bank Islam” (1983); sosiolog seperti Ba-Yunus mengupayakan “sosiologi Islam” (1985); dan para antropog “antropologi Islam” (Ahmed dengan bukunya The Reconstruction of Muslim Thought, 1986). Buku-buku seperti oreantalism yang ditulis Edward Said (1978) yang berpendapat bahwa Barat bisa memahami Islam hanya dengan cara bermusuhan dan eksploitatif, lebih jauh memberikan ide-ide yang membakar sikap menantang kesarjaan Barat. Para sarjana Muslim radikal menggunakan argumen ini sedemikian sehingga tiba pada kesimpulannya yang logis, yang menolak mentah-mentah segala sesuatu dari Barat, dan kemudian menetapkan langkah, jika bukan agenda, bagi kesarjanaan Muslim.
    Karena filsafat rekonstruksi pun tidak lepas dari dunia Islam. Apalagi Islam memiliki kelebihan khususnya dari sisi sumber dan methode ilmu di banding filsafat sain modern yang notabene berasal dari Barat. Namun bagaimanapun rekonstruksi bagi dunia Islam tidaklah mudah, diperlukan persyaratan-persyaratan yang harus terpenuhi terutama kemampuan untuk mengeksplorasi berdasarkan sumber hukum Islam.


    PENUTUP
    Kelahiran filsafat dekonstruksi tidak lepas dari kesadaran akan krisis multidimensi yang merasuki sebagian besar masyarakat akibat kegagalan proyek modernisme. Feilsafat ini berupaya mendekonstruksi pemikiran rasionalisme yang begitu kentara dalam setiap lini kehidupan ditambah lagi unsur sekuler yang mendominasi keyakinan akan kebenaran, bahkan berani mengenyampingkan agama sebagai kebutuhan spritual masyarakat yang pada hakekatnya tidak bisa diabaikan.
    Kesadaran ini tidak hanya berhenti pada usaha untuk mendekonstruksi kebenaran, namun juga disertakan upaya merekonstruksi sebagai jalan solutif, sekalipun belum tersistemtisasikan atas rekonstruski yang dihasilkan. Minimal fenomena religius dapat dijadikan rujukan akan signifikansi rekonstruksi, dimana masyarakat mulai mengalihkan kebutuhan spiritual sebagai kebutuhan yang utama, yang tentunya sangat berbeda dengan sains modern.
    Demikian juga filsafat rekonstruksi mengakui akan kebenaran yang tidak hanya dalam jangkauan pengamatan inderawi. Artinya, sumber dan methode ilmu itu dapat diperoleh juga dalam wilayah transendental, melalui indera batin dan intuisi. Dan inilah yang terdapat dalam konsepsi kebenaran sains Islam.


    DAFTAR PUSTAKA

    Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta, Balai Pustaka, cet VII, 1996.
    Muslih Usa dan Aden Widjan SZ, Pendidkan Islam dalam Peradaban Industrial, Yogyakarta, Adytia Media, 1997.
    Kuntowijiyo, Budaya dan Masyarakat, Yogyakarta, Tiara Wacana, 1997.
    Eugene V. Scneider, Sosiologi Industri, Jakarta: Aksara Persada Indonesia, cet II, 1993.
    Fritjof Capra, Titik Balik Peradaban, Yogyakarta, Yayasan Bentang, 1998.
    Frithjof Schoun, Islam dan Filsafat Perenial. Bandung, Mizan, cet III, 1995.
    Bambang Sugiharto, Postmodernisme Tantangan bagi Filsafat, Yogyakarta, Kanisius, 1996.
    Kazuo Shumogaki, Kiri Islam, Yogyakarta, LKiS, 1993.
    Ahmad Tafsir, Filsafat Umum; Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2001.
    Ali Mudhofir, Kamus Filsuf Barat, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2001.
    Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dan Filsafat Sains, Bandung, Mizan, 1995.
    Sayyed Hossein Nasr, Menjelajah Dunia Modern, (Bandung, Mizan, cet II, 1995), hal. 148
    John Naisbit dan Patricia Aburden, The New Direction for the 1990’s: Megatrend 2000, Amerika, Megatrend Ltd., 1990.
    Fazlur Rahman, Islam dan Modernitas tentang Transformasi Intelektual, Bandung, Pustaka, 1985.
    Malik Bin Nabi, Membangun Dunia Baru Islam, Bandung, Mizan, 1994.
    Akbar S. Ahmad, Posmodernisme Bahaya dan Harapan bagi Islam, Bandung, Mizan, cet IV, 1996.
    Thobroni, Syamsul Arifin, Islam, Pruralisme Budaya dan Politik, Yogyakarta: SIMPRESS, 1994.
    Wadjiz Anwar, Nilai Filsafat dalam Dunia Modern Dewasa Ini, Bandung: Penerbit Alumni, 1979.
    Yusuf Amir Feisal, Reorientasi Pendidikan Islam, Jakarta: Gema Insani Press, 1995.....[kembali]
    FotoFotoFotoFotoFotoFoto

    ©2012 PUSTEKOM STISIP WIDYAPURI MANDIRI SUKABUMI