• ew
  • Peran Komunikasi Politik Di Indonesia
  • peran serta masyarakat dalam membangun bangsa yang jujur dan bersih
  • KEMISKINAN ; KEBIJAKAN DAN PROGRAM PENANGGULANGANNYA DI KABUPATEN SUKABUMI H. Asep Hikmat
  • PROSPEKTIF DAN FENOMENA FILSAFAT DALAM DUNIA PENDIDIKAN U. Abdullah Mu’min
  • REFLEKSI KEJAYAAN PEMERINTAHAN ISLAM DI SPANYOL Maman Hidayat
  • ANALISIS KEBIJAKAN PEMANFATAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENDIDIKAN. H. Herri Azhari
  • Peluang dan Tantangan Penerapan Demokrasi Pascatransisi Hubungan Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah dalam Konteks Penanggulangan Kemiskinan Muhamad Saendinobrata
  • POSISI KURIKULUM DALAM PENDIDIKAN H. Herri Azhari
  • “PERMINTAAN” DALAM ILMU EKONOMI Hj Lidiawati, SE. M.Pd
  • SISTEM INFORMASI MANAJEMEN DALAM INSTITUSI PENDIDIKAN PERGURUAN TINGGI Ir. H. Kusman Nur, MM.
  • FILSAFAT DEKONSTRUKSI DAN REKONSTRUKSI U. Abdullah Mu’min
  • “MEMBACA”, PERJALANAN KEPEMIMPINAN KHULAFAURRASYIDIN (Khalifah Utsman dan Ali RA.) Maman Hidayat
  • KEBIJAKAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (H. Asep Hikmat)
  • ”KORUPSI ” SUATU FENOMENA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH (Muhammad Saendinobrata)
  • ”KORUPSI ” SUATU FENOMENA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH
  • APLIKASI MANAJEMEN MUTU TERPADU DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PELAYANAN PUBLIK DI PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN SUKABUMI
  • IMPLEMENTASI KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL DAN PERUBAHAN POLA KONSUMSI ENERGI RUMAH TANGGA (Studi Kasus Kabupaten Sukabumi)
  • ANALISIS STRUKTUR JEJARING KEBIJAKAN PUBLIK PEMBANGUNAN DESA Implikasi Implementasi Undang-Undang tentang Pembangunan Desa
  • RUU Perguruan Tinggi Batal Disahkan
  • Akan Terbang Kemanakah Negeri Ini?
  • Peran Administrasi Publik
  • Sistem Pemerintahan Indonesia
  • Sejarah PEMERINTAHAN INDONESIA
  • Cara membuat Undang-Undang
  • Pegawai NEGERI SIPIL SEBAGAI ABDI NEGARA DAN ABDI MASYARAKAT
  • Artikel lainnya...


    “MEMBACA”, PERJALANAN KEPEMIMPINAN KHULAFAURRASYIDIN (Khalifah Utsman dan Ali RA.) Maman Hidayat
    (27 November 2013)
    I. PENDAHULUAN
    Persoalan khilafiah di kalangan kaum Muslimin mulai terjadi sejak wafatnya Rasulullah SAW terutama yang pertama kali muncul adalah perselisihan politik dan kepemimpinan. Seperti diketahui perselisihan yang sangat serius antara Muhajirin dan Anshar tentang siapakah yang berhak menggantikan Rasul dalam memimpin ummat. Perselisihan ini dapat diselesaikan dengan baik sampai terpilihnya Abu Bakar secara aklamasi meski sempat terjadi kekecewaan dari pihak Ali bin Abi Thalib. Perpindahan kekhalifahan ke Umar ibn Khatab hampir tidak ada masalah karena Abu Bakar sendiri sebelum meninggal telah menunjuk sebagai penggantinya yaitu Umar ibn Khatab.
    Perselisihan kembali lagi terjadi bahkan hampir menjurus pada perpecahan, yaitu antara Utsman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib sepeninggalnya Umar Ibn Khatab, mengingat Umar tidak pernah menunjuk seseorang sebagai penggantinya namun beliau menyerahkan kepada enam Shahabat sebagai tiem musyawarah, yaitu Ali ibn Abi Thalib, Utsman ibn Affan, Sa’ad ibn Abi Waqqash, Abdurrahman ibn Auf, Az-Zubair ibn al-“Awwam, dan Thalhah ibn Ubaidillah, hingga peristiwa terbunuhnya Utsman yang kemudian dilukiskan dalam catatan sejarah sebagai awal dan puncak perpecahan di kalangan umat Islam.
    Utsman ibn Affan dituduh sebagai pemimpin yang nepotist, karena beliau menyingkirkan orang-orang yang bukan golongannya dari pemerintahan dan mengangkat golongannya sendiri, seperti Muawiyah diangkat menjadi Gubernur di Syria, Abdullah ibn Sa’ad ibn Abi Sarah Gubernur Mesir, Abdullah ibn Amir Gubernur Bashrah, Sa’ad ibn Ash Gubernur Kufah, dan mengangkat Marwan ibn Hakam menjadi pembantu pribadinya.
    Kalau kita perhatikan peristiwa-peristiwa sejarah tuduhan-tuduhan seperti itu tidak mudah untuk diterima, karena ternyata Utsman juga memberikan kepercayaan kepada orang-orang yang bukan dari golongannya (keluarganya), bahkan seorang bekas pemberontak Al-Asy’ats ibn Qais al-Kindi diangkat menjadi komandan dalam mendampingi Sa’ad ibn Ash. Kesan yang dapat kita gambarkan adalah pada pemerintahan Utsman dan Ali memberikan catatan tersendiri dalam sejarah kaum Muslimin, sebagai periode perpecahan ummat sehingga seringkali terjadi pertumpahan darah yang berakibat terbunuhnya seorang Muslim oleh orang Muslim lagi.
    Sepintas kalau kita telaah, betapa kalutnya periode pemerintahan Utsman dan Ali sehingga kedua Khalifah ini di akhir hayatnya mati terbunuh oleh ummat Islam. Dalam Makalah ini penulis akan mencoba memaparkan periodisasi kedua khalifat tersebut, namun demikian dalam makalah ini penulis membatasi pembahasnnya hanya pada sejarahnya secara singkat dari mulai masuk Islam, masa kepemimpinannya, peristiwa-peristiwa penting yang terjadi, sampai peristiwa meninggalnya kedua Khalifah tersebut.


    II. KEPEMIMPINANAN KHALIFAH UTSMAN BIN AFFAN
    A. Nasab dan Kehidupannya
    Beliau bernama Utsman bin Affan bin Abi “Ash bin Umayah bin Abdu Syams bin Manaf bin Qushay al-Amawi al-Qurasyi, lahir pada tahun kelima dari kelahiran Rasulallah SAW. Ibunya bernama Arwa binti Kuraiz dan nenek dari ibunya Al-Baidha’ binti Abdul Muthalib, bibi Rasulallah, yakni saudara kembaran Abdullah ayah Rasulallah SAW.
    Utsman masuk Islam berkat upaya Abu Bakar dan termasuk kelompok pertama pada masa awal dakwah Rasulallah. Beliau terkenal sebagai seorang yang pandai menjaga kehormatan diri (‘Iffah), pemalu, pemurah, dan budiman. Ibnu Hajar mengatakan : “Dia tidak suka membangunkan keluarganya saat sedang tidur dan bilamana didapatkan bangun lalu diserunya dan disediakan air wudhu. Dia selalu puasa sepanjang tahun, kecuali pada hari yang dilarang berpuasa, yaitu hari “Idul Fitri dan Idul Qurban serta hari syak pada penentuan awal Ramadhan. Dia dikenal sebaik-baik sahabat dalam bacaan Al-Qur’an menurut penilaian Rasulallah SAW.
    Utsman menikah dengan putri Rasulallah, Ruqayyah yang meninggal karena sakit pada saat terjadi perang Badar sehingga Utsman pada waktu itu tidak mengikuti perang karena sibuk menemani dan mengurus Ruqayyah yang terbaring sakit, kemudian Utsman dinikahkan lagi dengan putri Rasulallah, Ummu Kultsum. Oleh sebab itulah beliau dijuluki Dzu Nurain, yang berarti orang yang mendapat anugrah dua cahaya (dua putri Rasulallah SAW.).
    Utsman adalah salah seorang dari sepuluh orang yang mendapat jaminan akan masuk surga dari Rasulallah. Salah satu hadits yang diriwayatkan dari Rasulallah yang mengatakan, “sesungguhnya setiap Nabi itu memiliki seorang teman dan temanku di surga adalah Utsman bin Affan”. Dimasa pemerintahan Abu Bakar, beliau dianggap sebagai orang kedua setelah Umar, sedangkan pada pemerintahan Umar diposisikan sebagai orang kedua setelah umar. Dengan demikian pada masa pemerintahan Umar terjadi persatuan antara kelembutan Utsman dan sikap keras Umar.

    II. Kisah Asy-Syura (Utsman dibai’at)
    Seperti telah dikemukakan bahwa sepeninggalnya Umar ibn Khatab pemerintahan diserahkan kepada enam Shahabat sebagai tiem musyawarah, yaitu Ali ibn Abi Thalib, Utsman ibn Affan, Sa’ad ibn Abi Waqqash, Abdurrahman ibn Auf, Az-Zubair ibn al-Awwam, dan Thalhah ibn Ubaidillah. Selanjutnya Umar memerintahkan untuk bermusyawarah selama tiga hari dan hari keempatnya telah terpilih pemimpin penggantinya. Proses musyawarah inilah yang terkenal dengan peristiwa Asy-Syura (Musyawarah untuk memilih khalifah).
    Sejarah mencatat, bahwa dalam musyawarah pemilihan khalifat tersebut terjadi perselisihan yang menjurus perebutan kekuasaan, sejak itulah tampak dalam masyarakat Islam persaingan diantara mereka, satu kelompok sebagai pendukung Ali dan satu kelompok pendukung Utsman. Namun demikian musyawarah yang dipimpin Abdurrahman ibn Auf berhasil menetapkan Utsman bin Affan sebagai khalifah. Ketidak-puasan Ali saat itu juga dikemukakan kepada Abdurrahman ibn Auf ; “Sungguh selama ini aku telah mencintainya dan ini bukan hari pertama engkau secara terang-terangan menampakkan keberpihakan kalian kepadanya. Maka bersabar adalah jalan terbaik dan hanya Allah sajalah tempat memohon pertolongan atas apa yang kalian sifati. Demi Allah! Aku tidak akan menerima Utsman sebagai pemimpin kecuali keputusanmu ditarik kembali. Dan Allah setiap hari berbuat sesuai dengan kehendak-Nya.”
    Kalau kita perhatikan dari peristiwa pergantian pimpinan pasca Umar, bahwa persaingan antara Utsman dan Ali sangat nampak ke permukaan sehingga melibatkan persaingan pengaruh antara Bani Hasyim (Ali) dan Bani Umayah (Utsman). Kedua figur inilah yang sama-sama dikehendaki oleh masing-masing pendukungnya.

    C. Masa Pemerintahannya
    Utsman dibai’at menjadi khalifah pada usia 70 tahun dan memerintah selama 12 tahun. Banyak jasa yang dilahirkan pada masa pemerintahannya, penyebaran Islam sangat pesat berkembang baik ke wilayah Barat maupun Timur. Di wilayah Barat, Utsman menyusun strategi penaklukan semua wilayah Afrika, dipimpin Abdullah bin Abi Sarah memulai penaklukan wilayah Tharablis dan mampu mengalahkan pasukan Bizantium di Sabithalah, sampai bergabungnya Barqah, Tharablis, Barat Mesir, dan wilayah Nawbah. Tahun 28 H/648 M. pasukan yang dipimpin Mu’awiyah berhasil menaklukan Siprus.
    Pada masa Utsman pula diperkenalkan yang pertama kali kaum Muslimin melakukannya, yaitu perang laut yang lebih dikenal Perang Dzatus Shawari (31 H/651 M), pada saat itu pasukan laut yang dipimpin oleh Abdullah ibn Abi Sarah menaklukkan pasukan Romawi di pantai Kilikiya, sehingga wilayah Romawi dapat dikuasai sampai daerah Amuriyah sebuah wilayah dekat Ankara.
    Penaklukan wilayah Barat dibawah pimpinan Umair bin Utsman sampai ke Farghanah (29 H/649 M), Abdullah bin Laitsi mencapai Kabul, Abdullah at-Tamimi sampai ke sungai Hindustan, dan Said ibn al- Ash berhasil menaklukan Jurjan. Penaklukan berlanjut kewilayah Persia.
    Sejarah mencatat bahwa pada masa pemerintahan Utsman dilakukannya penghimpunan al-Qur’an dalam satu mahshaf, beliau mampu menyatukan ummat dalam membaca al-Qur’an dengan bacaan yang sama seperti halnya bacaan Rasulallah SAW. Rasm Utsmani merupakan bacaan kaum Muslimin hingga saat ini.
    Sebagian besar masa pemerintahan Utsman dilalui dengan keamanan, stabilitas, dan kemakmuran. Namun demikian Allah menghendaki lain, akhir masa pemerintahannya terjadi gejolak yang laur biasa (bencana besar) yang lebih dikenal dengan Fitnah Kubra, yang mengakibatkan terbunuhnya Utsman secara terdzalimi yang berimbas terjadinya perpecahan umat serta renggangnya persatuan.
    Semua itu mungkin disebabkan adanya perubahan kondisi dunia Islam pada masa pemerintahan Utsman, yaitu wilayah kekuasaan Islam semakin luas dan banyaknya bangsa-bangsa yang masuk ke dalam pangkuan Islam. Dalam Islam telah masuk berbagai ras dan bahasa yang berbeda, sehingga sangat sulit untuk dipersatukan terlebih mereka adalah penganut Islam yang relatif masih baru sehingga belum mengakar ke-Islamannya pada diri mereka.
    Pada sisi lain terlepas dari perbedaan pendapat, bahwa Utsman seringkali mengambil keputusan yang cenderung menguntungkan keluarganya, seperti halnya dalam mengganti gubernur dan pembantu pemerintahannya, sehingga beliau disamping dikenal sifat mulianya juga sifat negatif yaitu Nepotist menjadi terkenal pada saat pemerintahannya. Sayyid Amir mensifati Utsman sebagi berikut ;”Utsman adalah seorang yang telah berusia lanjut dan seorang yang lemah dalam mengendalikan pemerintahan. Sehingga ia tidak lagi mampu memperhatikan tanggung jawab pemerintahan sekalipun ia adalah orang yang bersih dan banyak keutamaannya. Langkah politiknya yang lemah dan keterpihakannya kepada kaum kerabat telah menimbulkan kebencian dari penduduk Madinah dan sejumlah besar penduduk kota-kota di berbagai wilayah negeri Islam.”
    Perubahan keadaan yang semakin kritis, mendorong orang-orang yang benci kepada Utsman untuk menyalakan api fitnah, maka berkobarlah fitnah besar (fitnah kubra) di tengah kaum muslimin yang pertama kali dihembuskan oleh Abdullah ibn Saba’ seorang Yahudi dari Yaman yang berpura-pura masuk Islam. Puncaknya fitnah mulai terjadi di Mesir sampai melibatkan gubernurnya dipecat dan diganti, begitu pula terjadi di Kufah, dan Bashrah, sampai akhirnya kekacauan melanda sampai Madinah.
    Pada masa keadaan tidak menentu, terjadilah pemberontakan dahsyat di Madinah, Utsman dikepung dikediamannya sampai akhirnya terbunuh. Peristiwa ini terjadi pada bulan Dzulhijjah tahun 35 H/656 M.
    Perlu penulis sampaikan, bahwa sebenarnya pembunuh Utsman yang dinisbatkan sebagai pemberontak, hanyalah kelompok orang sedikit. Diantara orang yang diketahui sebagai pembunuh adalah al-ghafiqi yang kemudian melarikan diri, sedangkan yang lainnya tidak diketahui.


    III. KEPEMIMPINAN KHALIFAH ALI BIN ABI THALIB
    A. Nasab dan Kehidupannya
    Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Luay bin Kilab al-Qurasyi, dilahirkan di Mekah sepuluh tahun sebelum ke-Rasulan. Ibunya bernama Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Abdul Manaf. Beliau merupakan sepupu Rasulallah dan dipilih menjadi menantunya dengan mengawini putri Nabi Fatimah pada tahun ketiga hijrah dan dikaruniai anak Al-Hasan dan Al-Husain. Beliau juga termasuk sepuluh shahabat yang mendapat jaminan masuk surga dari Rasulallah SAW.
    Sejak kecil beliau telah dididik di rumah Rasulallah SAW dan beliau masuk Islam dalam usia kurang dari sepuluh tahun. Dengan demikian Ali merupakan orang yang pertama masuk Islam dari kalangan anak-anak. Saat Rasulallah SAW akan hijrah, dia tidur di atas tempat tidur Rasulallah SAW menggantikannya di waktu beliau dikepung akan dibunuh. Maka Ali menjadi orang pertama yang rela sebagai Fida’ (tebusan) Rasulallah SAW dalam Islam.
    Beliau selalu bersama Rasulallah SAW dalam setiap peperangan dan selalu tampak sebagai pahlawan yang militan, keberaniannya sangat legendaris, dia adalah Saefullah (pedang Allah), lidahnya sangat fasih dan dikenal sebagai ilmuwan yang sangat dalam dan luas. Hingga pada akhir hayat Rasulallah SAW, beliau beranggapan bahwa dirinya merupakan orang yang paling berhak melanjutkan kepemimpinannya. Sejarah mencatat ketika kepemimpinan jatuh kepada Abu Bakar Sidik, beliau tidak ikut membaiatnya baru setelah enam bulan beliau menerima kepemimpinan Abu Bakar dan membaiatnya.

    B. Pembaiatan Ali bin Abi Thalib
    Pemilihan Ali sebagai khalifah tidak berdasarkan cara yang ditempuh dalam pemilihan para khalifah sebelumnya. Pada saat Utsman terbunuh, kelompok pemberontak dan penyebar fitnah dimasa Utsman ternyata condong untuk mengangkat Ali sebagai khalifah, pada saat itu mayoritas para shahabat bertebaran di luar Madinah yang tersisa hanya beberapa shahabat saja, seperti Thalhah dan Az-Zubair. Thalhah adalah shahabat yang paling pertama membai’at Ali, kemudian diikuti oleh Az-Zubair dan masyarakat luas mengikutinya. Pembaiatan terhadap Ali terjadi pada hari Jum’at 13 Dzul Hijjah 35 H.
    Diantara para shahabat pada saat itu terpecah, ada yang merasa ragu membaiat Ali seperti Sa’d bin Abi Waqqas dan Abdullah bin Umar. Bahkan diantara para shahabat dari kalangan Anshar ada yang tidak membaiatnya seperti Hassan bin Tsabit, Maslamah bin Mukhalid, dan Abu Said al-Khudri. Mereka ini merupakan kelompok yang berpihak kepada Usman. Selain itu ada pula shahabat yang melarikan diri ke Syam seperti Al-Mughirah bin Syu’bah, terlebih kelompok Bani Umayah mereka tidak mau membaiat Ali, mereka melarikan diri ke Syam dan ke Makkah. Namun demikian Ali bin Abi Thalib tetap dibaiat oleh sebagian besar para shahabat.
    Kalau kita cermati, saat-saat pembaiatan Ali telah terbaca adanya krikil-krikil perpecahan dengan ditandai banyaknya shahabat yang tidak loyal terhadap Ali dan sudah barang tentu pada gilirannya akan menimbulkan prahara ketidakpercayaan terhadap kepemimpinannya. Hal inilah kiranya yang menjadi pangkal utama terjadinya berbagai krisis kepemimpinan dengan perselisihan yang mengakar diantara kaum Muslimin sendiri.


    C. Masa Pemerintahannya
    Sesudahnya Ali bin Abi Thalib dibaiat menjadi khalifah, dia terkenal sangat teguh dalam memegang hak dan tidak pernah main-main dalam menetapkan kebijakannya. Pada masa pemerintahannya ibu kota dipindahkan dari Madinah ke Kuffah. Selanjutnya beliau bergegas menggeser para gubernur pada masa Utsman yang dianggap sebagai sumber fitnah, begitu pula dia langsung melakukan pengambil-alihan tanah-tanah yang telah diberikan Utsman kepada sebagian kerabat-kerabatnya untuk dikembalikan ke baitul mal.
    Tindakan yang ditempuhnya ini telah menimbulkan kebencian dari pada gubernur yang hidup senang selama masa pemerintahan Utsman. Muawiyah bin Abi Sufyan menolak pemecatan dari gubernur Syam, dia malah membentuk kelompok kekuatan untuk mengibarkan panji-panji pembangkangannya kepada Ali, bahkan ia justru menuntut darah Utsman agar Ali segera mengadili para pemberontak pembunuh Utsman, namun Ali bin Abi Thalib tidak menjadikan masalah itu sebagai prioritas mengingat keadaan masih sangat labil.
    Mulailah babak baru perselisihan Ali dan Muawiyah, penduduk Syam di bawah komando Muawiyah secara resmi memisahkan diri dari khalifah Ali. Berangkatlah Ali dengan pasukannya dari Kufah menuju Syam. Namun pada saat yang bersamaan pasukan Aiyah yang disertai Thalhah dan Zubair datang menuju Bashrah dan menetap selanjutnya berhasil menguasainya, bahkan mereka berhasil menagkap dan meringkus para pembunuh Utsman. Dalam keadaan darurat, pasukan Ali berbelok mengubah rute dari Syam ke Bashrah dengan tujuan menemui pasukan Aisyah untuk menghentikan tidakannya dan berdamai.
    Hampir saja terjadi perdamaian antara kedua belah pihak, namun Abdullah bin Saba’ dan pengikutnya menebar hasutan agar terjadi peperangan, maka meletuslah pertempuran sengit di depan unta yang membawa tandu Aisyah, yang kemudian terkenal dengan Perang Jamal (Perang Unta). Pasukan Aisyah kalah, dan tercatatlah dalam sejarah perang pertama antara dua kelompok kaum Muslimin, menurut sebagian sejarawan lebih dari 10.000 kaum muslimin terbunuh dalam perang ini.
    Setelah selesai perang Jamal, kembalilah Ali mengarahkan perhatiannya ke Muawiyah di Syam. Untuk menghindari pertumpahan darah, diutuslah juru runding (delegasi) dari masing-masing pasukan namun tidak pernah membuahkan hasil, hingga pada akhirnya berkumpullah pasukan Ali dan Muawiyah di Siffin, terjadilah perang berkecamuk yang lebih dikenal dengan perang Siffin. Hampir saja pasukan Ali memenangkan pertempuran, namun karena kelicikan Muawiyah dan Amru bin Ash keduanya memasang jerat dengan mengusung al-Qur’an pertanda damai, sehingga terjadilah kesepakatan damai yang dikenal dengan Tahkim (arbitrase), dengan delegasi Amru bin Ash dari Muawiyah dan Abu Musa al-Asy’ari dari Ali bin Abi Thalib.
    Akibat tahkim (arbitrase) inilah kelompok Ali dirundung perpecahan, sebagian menerima tahkim dan sebagian lagi menolak. Akibat dari tahkim pula lah Ali mengalami kekalahan dan dijatuhkan dari kekhalifahannya oleh strategi yang dimainkan Amru bin Ash dan Muawiyah, Negeri Syam di bawah komando Muawiyah semakin perkasa hingga mampu menguasai Mesir (38 H/658M). Bahkan Madinah, Makkah, dan Yaman sempat dia kuasai. Perpecahan kelompok pendudung Ali ditandai dengan penolakannya terhadap tahkim yang dipandang melanggar aturan al-Qur’an, mereka menyatakan keluar dari Ali dan memilih jalan sendiri, merekalah yang kemudian dikenal Kaum Khawarij.
    Kaum Khawarij menganggap semua yang telah menerima tahkim (arbitrase) adalah kafir sebab dianggap membuat hukum keluar dari ajaran al-Qur’an (al-Maidah ; 44) ;
    “Barang siapa tidak memutuskan (menghukumkan) menurut apa yang diturunkan Allah SWT, mereka adalah orang-orang kafir”
    Semakin lama kelompok ini semakin besar, mereka melakukan pemberontakan hingga terjadilah perang di wilayah Nahrawand yang kemudian dikenal dengan perang Nahrawand. Pasukan Ali berhasil memukul mundur pasukan Khawarij tinggal sangat sedikit yang selamat dan mereka melarikan diri diantaranya ke Amman, Karman, Sajistan, Jajirah Arab, dan ke Yaman. Masing masing mereka menyusun kekuatan hingga pada akhirnya kelompok mereka pula lah yang membunuh Ali bin Abi Thalib.
    Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib adalah rencana keji orang orang Khawarij, mereka menghalalkan darah orang yang telah melakukan tahkim. Tiga orang yang paling bertanggung jawab menurut pandangannya, yaitu Ali bin Abi Thalib, Muawiyah, dan Amru bin Ash. Ketiga orang inilah yang harus pertama kali dibunuh, namun sejarah menulis hanya Ali lah yang tewas terbunuh oleh Abdurrahman bin Muljam pada saat beliau akan melaksanakan shalat Subuh di bulan Ramadhan tahun 40 H/661 M.


    D. Pembaiatan Hasan sebagai Khalifah
    Setelah Ali meninggal, para pengikut setianya segera membaiat Hasan bin Ali sebagai khalifah pengganti. Dia berkuasa hanya dalam waktu enam bulan, dan akibat perselisihan yang tak kunjung selesai terjadi di masyarakat, maka dilakukanlah kesepakatan damai dengan Muawiyah. Pada bulan Rabiul Awwal tahun 41 H/661 M. diserahkanlah kekuasaan pemerintahan penuh kepada Muawiyah, maka tahun ini dikenal dengan Aamul Jama’ah (Tahun Kesepakatan), karena kaum Muslimin sepakat menjadikan satu khalifah sebagai pemimpin mereka. Dan sejak Ali meninggal, berakhirlah masa pemerintahan Khulafaur Rasyidiin.



    IV. PENUTUP

    Dari uraian singkat di atas setidaknya dapat memberikan gambaran tentang kondisi real pada masa kekhalifahan Utsman dan Ali, yang mungkin kita telah pahami selama ini bahwa pada masa-masa inilah yang menjadi titik pokok perpecahan dan perselisihan ummat Islam khususnya dalam bidang politik pemerintahan, namun dalam perkembangannya dari perselisihan politik ini berimbas pada pengkacauan tatanan tauhid (teologis) ummat Islam akibat terjadinya perselisihan paham dan keyakinan dalam hal-hal yang berhubungan dengan akidah keimanan.
    Memang demikian adanya, bahwa ketika Umar tewas terbunuh sama sekali tidak ada penunjukkan terhadap seseorang sebagai pengganti melainkan hanya dibentuk tim musyawarah (tiem kecil/formatur) yang bertugas memilih pemimpin, sehingga majelis ini lebih dikenal dengan istilah Majelis Syura, dan diantara keputusan penting yang ditetapkan adalah terpilihnya Utsman ibn Affan sebagai pemimpin pengganti Umar ibn Khatab.
    Selama 12 tahun pemerintahannya, Utsman telah menunjukkan prestasi yang sangat menguntungkan bagi kemajuan kaum Muslimin. Berkat modal dasar kepribadian budi pekerti yang luhur, Utsman dapat menjadi panutan ummat dan juga disegani. Jasa-jasanya yang terpenting beliau mampu membukukan al-Quran yang diseragamkan bagi seluruh kaum Muslimin hingga dipakai saat ini (Rosm Utsmani). Selain itu, masa pemerintahannya banyak diisi dengan penyebaran Islam yang sangat pesat sehingga kekuasaan Islam dijamannya mengalami perluasan yang sangat signifikan baik perluasan ke wilayah Barat maupun Timur. Pertempuran laut (Perang Dzatus Shawari), merupakan perang laut pertama yang terjadi di kalangan ummat Islam, sehingga pada saat itu Utsman memiliki pasukan khusus angkatan laut.
    Berbeda dengan pemerintahan Ali ibn Abi Thalib, selama enam tahun pemerintahannya lebih banyak dihabiskan dalam penumpasan pemberontakan terhadap kelompok-kelompok yang membangkang. Tercatat beberapa peristiwa penting seperti Perang Jamal, Perang Siffin, dan Perang Nahrawand, merupakan bukti kongkret banyaknya pertumpahan darah yang ironisnya semua terjadi antara Muslim dan Muslim. Dan ada satu peristiwa penting yang terjadi, yaitu Tahkim (Arbitrase) yang kontropersial ketika terjadinya perang Siffin dengan Muawiyah. Akibat peristiwa Tahkim inilah, banyak para ahli sejarah yang mencatat sebagai puncak perselisihan dan perbedaan pendapat ummat Islam baik dalam bidang Teologis (akidah) maupun bidang politik (pemerintahan).
    Ada perbedaan yang cukup mencolok dalam mensikapi pemerintahannya, bahwa Utsman lebih pemurah dan rendah hati sedangkan Ali sangat keras dan tegas dalam menerapkan kebijakannya. Namun kesamaan dari keduanya, akibat yang menimpa kepada kedua pemimpin ini adalah meninggal karena dibunuh, dan pada masa kepemimpinan keduanya pula awal terjadinya peristiwa-peristiwa pembunuhan umat Muslim oleh Muslim lagi. Terlepas keduanya sebagai syahid atau tidak namun sepakat para ulama bahwa keduanya merupakan Khulafaur Raasyidin, dan itu pun yang selama ini kita yakini.
    Wallahu ’alam


    DAFTAR PUSTAKA
    - Ahmad al-Usairy, Sejarah Islam ; Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, Akbar Media Eka Sarana, Jakarta ; 2003
    - Amin Ahmad, Fajar Islam, Sulaiman Mar’I, Singapura ; 1965
    - Ath-Thabari, Al-Fakhri fi al-Adab as-Sulthaniyyah wa al-Funun al-Islamiyyah, Al-Qahirah ; 1345 H/1927 M.
    - Al-Ishabah fi Ash-Shahabah, Al-Qahirah ; 1323 H.
    - Departemen Agama RA., Al-Qur’an dan Terjemahnya, Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur’an Departemen Agama Ri., Jakarta, 1983/1984
    - Hasan Ibrahim Hasan, Dr., Sejarah dan Kebudayaan Islam, Kalam Mulia, Jakarta ; 2002
    - Le Bon, Jostave, The Arabs in History, London ; 1950
    - Rafiq al-‘Izham, Tadzkirah al-Huffazh, Haydar Abad ; 1333 H.
    - Yusran Asmuni, Dirasah al-Islamiyah, Raja Grafindo Persada, Jakarta ; 1998....[kembali]
    FotoFotoFotoFotoFotoFoto

    ©2012 PUSTEKOM STISIP WIDYAPURI MANDIRI SUKABUMI